Beberapa bulan lalu, saya pernah menulis Mendulang, Pekerjaan Penuh Risiko. Senin (5/5) terjadi longsor di Kampung Sugima, Distrik tembagapura. 19 orang tewas dan diperkirakan masih ada tiga orang yang belum ditemukan. Korban longsor tersebut adalah para pendulang.

Pendulang sisa-sisa tambang PT Freeport memang banyak ditemui di tepian sungai tempat mengalirnya tailing. Kondisi camp pendulang pun seadanya, mereka mendulang seperti tanpa memperhitungkan risiko jika terjadi hujan terus menerus. 19 korban tersebut adalah penghuni Camp 55 di mile 72.

Letak camp-camp pendulang berada disisi sungai dan tebing gunung yang menjulang. Jadi jika longsor, camp akan tertimbun longsor kemudian akan jatuh ke sungai. Arus sungai pun derasnya tergantung curah hujan, jangankan manusia sebuah batu yang sangat besar saja bisa hanyut diterjang derasnyya arus sungai yang bercampur lumpur sisa tambang.

Apapun pekerjaan memang penuh risiko tapi mendulang di medan yang mengerikan… sungguh pekerjaan yang membutuhkan keberanian luar biasa.

Sejak kamis lalu sudah mulai libur tapi pada rabu sore ada sebuah undangan utuk menghadiri penanaman dusun sagu di nayaro dan saya yang ditunjuk untuk mengikuti acara tersebut–nga ada orang lg seh :) . Meskipun libur sebagai bawahan yang baik dan sudah menjadi bagian dari pekerjaan, saya tetap menghadiri acara itu. lagian diitung lembur kok :D

Tidak seperti biasanya, saya selalu membawa jaket. Tapi kali ini saya meninggalkan jaket kulit di kantor dan pergi dengan asumsi di Nayaro pasti panas akan tetapi justru sebaliknya, hujan lebat mengguyur Nayaro. Turun dari bis, saya tidak dapat mengambil gambar, sayang kameranya ntar rusak kena air :D

Kemudian saya berlari mendahului rombongan Bupati, Danlanal, Danlanud, Uskup dan pejabat lainnya yang berjalan dengan dilindungi payung, sedangkan saya berlari tanpa payung, sekujur tubuh basah. Sampai di Tenda, saya bisa menggambil gambar meskipun kamera sedikit kena air. Untungnya hujan tak lama. Saat penanaman, hujan berhenti total.

Tapi bagaimanapun juga akibat air hujan yang mengguyur saya, kepala jadi pening dan terasa berat.

Uuh.. mudah2an tidak sakit nanti.

Ada seorang bapak yang bisa menciptakan sebuah robot. Robot itu bisa mendeteksi apakah manusia itu jujur atau tidak. Suatu malam bapak ini pu anak baru pulang dari bajalan. Bapak Tanya diapu anak begini, “Anak ko darimana?”. Jawab anak itu,”sa dari belajar”. Langsung si robot menampar muka anak itu.

Bapak bilang lagi,”ko bicara yang jujur, kalo ko tipu robot ini akan tampar ko lagi,”.

“Sa baru nonton film perang,” kata anak itu dan robot menampar muka anak itu. “Ko bicara jujur, nonton film apa,” kata bapak. “Film porno,” kata anak itu dan si robot tak menampar.

Lalu si bapak mulai memberi wejangan kepada anaknya,”Kamu ini masih kecil trus su nonton film porno. Bapak dulu itu tara pernah nonton film porno” lalu si robot menampar si bapak.

Kemudian si ibu muncul dari belakang lalu bilang,”pace, biar jelek-jelek begitu, itu kopu anak juga” tiba-tiba si robot menampar si ibu.

Anak lelaki kecil itu duduk bersila di lantai. Dihadapannya ada semangku mie rebus. Tangannya yang kecil meraih sebuah sendok, lalu mengambil mie dari dalam mangkuk dan ia memindahkan dua sendok mie ke piring kecil agar lebih cepat dingin. Setelah dingin ia menyantap mie tersebut. Cara itu sering dilakukannya jika hendak menyantap mie, baik yang rebus maupun mie goreng.

Sejak ia dilahirkan ke dunia, ia menjadikan mie sebagai makanan yang paling digemari. Saat ini usianya enam tahun dan selama itu ia tak pernah memakan nasi walaupun hanya satu butir saja. Mengonsumsi mie instant sudah menjadi kebiasaan. Ketika ia masih kecil, semua jenis makanan bayi hanya sampai di mulutnya saja. Selebihnya dimuntahkan.

Jangankan untuk makan nasi, mencium aroma uap nasi panas saja ia langsung muntah. Seperti orang mabuk laut atau mabuk karena minuman keras. Suatu hari ketika Ibu dan Kakak sedang asyik menonton tivi, tiba-tiba anak kecil itu menangis sejadi-jadinya padahal tak ada yang menganggunya. Ia sendirian didapur. Mendengar tangisan yang sangat keras, Ibu dan Kakak serentak menuju dapur, mereka mengira anak kecil itu kena pisau.

Sesampainya di dapur, anak kecil itu mengangkat kakinya dan berkata, “Ada nasiiiii……” sambil menjerit-jerit dan menangis sekencang-kencangnya. Ibu lalu mengambil sebutir nasi yang terselip diantara jempol kaki dan telunjuk kakinya. Seketika itu Ia langsung diam dan melanjutkan kegiatannya.

Jika kami makan, maka kami yang harus mengalah karena ia akan berteriak-teriak dan lebih parah lagi, ia akan memuntahkan semua isi perutnya saat itu juga. Tapi berbeda ceritanya jika kami bersama-sama menyantap sate. Ia tak mencium bau nasi dan seakan tak peduli dengan nasi disampingnya. Ia melahap sate dengan nikmatnya.

Ada cerita lagi, suatu hari ada seorang penjual sate lewat di depan rumah kami. Anak kecil itu menangis dan meminta Ibu untuk membelikan sate. Ibu mau membelikan sate asal makan dengan nasi. Anak kecil itu menyanggupinya. Dihadapannya sate dan nasi tersedia, lalu ia mengambil satu tusuk sate kemudian satu sendok nasi. Ajaib, ia tidak muntah. Ia mengunyah-nguyah dan lebih ajaib lagi daging sate bisa di telan tapi nasi tertinggal dalam mulutnya lalu dikeluarkan dan dibuang.

Enam tahun sudah ia tak pernah makan nasi, untuk makanan sehari-hari, ia mengonsumsi mie instan, pentolan, susu ultra dan makanan ringan lainnya. Bujukan maupun rayuan agar ia makan nasi semuanya sia-sia bahkan saya berjanji akan membelikan sepeda jika bisa makan nasi tapi tetap saja tak berhasil, ia memilih tak memiliki sepeda daripada makan nasi.

Adakah cara agar adik kecil saya bisa makan nasi seperti saya??

Ada satu hal yang menjadi kebiasaan atau mungkin sudah tradisi bagi Suku Kamoro. Selain Senyum dan Ucapan selamat saat bertemu seseorang, panggilan Bapa, Mama atau Anak sering terdengar.

Ketika Saya berkunjung ke Kaokanao, salah satu pemukiman di daerah pesisir yang merupakan pemukiman suku Kamoro. Lelaki yang sudah tua dipanggil Bapa, Perempuan tua disapa Mama dan anak-anak muda maupun anak-anak dipanggil Anak. Tapi kalau anak kecil memanggil orang muda dengan sebutan Om.

Saya mendapat kehormatan dipanggil Anak :D . tentunya yang memanggil
seperti itu yah bapa-bapa atau mama-mama, kalau usianya dibawah saya, ya memanggilnya OM :D . Memang agak lain terdengar ketika saya dipanggil Anak, biasanya Emak atau
Bapak memanggil saya Le’ bahkan dengan nama langsung.

Tapi apapun panggilan semua itu tetap sopan tidak seperti di pasar atau di Timika Kota, memanggil orang yang tak dikenalnya dengan panggilan Oiiii… atau Sssst…. Eh eh, Benar-benar tidak sopan dan tak tahu aturan. Minimal kalau tak kenal kan bisa dengan sebutan Om atau Pak bahkan Mas  :D

Sapaan penulis

SELAMAT DATANG dan SELAMAT MENIKMATI. Blog ini dibuat untuk menampung tulisan2ku baik yang telah dimuat di tabloidku maupun kisah2 perjalanku, juga tempat menuangkan segala macam uneng2 pribadi. Jika merasa keberatan JANGAN MENGAKSES blog ini. Tapi jika Anda tetap bersikeras mengakses blog ini, saya mengharapkan kritik dan saran serta pertanyaan, silakan beri komentar.

Tentang Landas

LAndAS, buletin internal Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK), untuk selengkapnya silakan kunjungi tautan LPMAK.

Arsip

Penanggalan

Mei 2008
M S S R K J S
« Apr    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

yang Mampir

  • 12,547 Pelancong

Yang Iseng Saat Ini

who's online
Add to Technorati Favorites