BADAN kesehatan dunia, World Health Organization (WHO) dalam penelitian terbarunya melaporkan bahwa setiap tahun sedikitnya satu juta anak usia di atas lima tahun (balita) di Asia dan Afrika meninggal akibat diare. Badan dunia ini menyebutkan dua pembunuh terbesar balita di Asia dan Afrika adalah diare dan radang paru-paru.

Pada kasus diare, budaya hidup bersih sangat mempengaruhi penyebaran penyakit ini. Terutama kebiasaan anak-anak untuk menjaga kebersihan alat makan dan badan setelah buang. Bakteri yang ‘tersembunyi’ dalam kotoran manusia akan masuk ke dalam tubuh ketika anak-anak memasukkan makanan tanpa mencuci tangan terlebih dahulu.

Budaya hidup bersih untuk mendapatkan kualitas kesehatan dapat dimulai dengan­ mengajarkan kebiasaan yang sangat sederhana kepada anak-anak yaitu mencuci tangan dengan sabun sebelum makan, dan setiap habis buang air. Kebiasaan ini akan dapat menyelamatkan lebih dari satu juta balita di seluruh dunia.

Biro Kesehatan Lembaga Pengem­bangan­ Masyarakat Amungme dan Kamo­ro (LPMAK) bersama mitra dari Project Concern International (PCI) telah mengadakan program untuk membiasakan pola hidup sehat kepada masyarakat. Termasuk membiasakan masyarakat untuk mencuci tangan pakai sabun.

Staf Biro Kesehatan LPMAK, dokter Milka Tiranda, mengatakan gerakan mencuci tangan ini dimulai dari anak-anak sekolah. “Melalui sosialisasi di sekolah diharapkan sejak kecil anak sudah terbiasa hidup bersih dan dapat membawa kebiasaan baru ini ke lingkungan keluarga masing-masing,” kata dokter Milka.

Menurut Milka, di Sekolah Dasar Ban­ti, Tembagapura, gerakan mencuci ta­ngan­ pakai sabun dilakukan secara rutin seminggu sekali bersamaan dengan pro­gram pemberian makanan tambahan anak sekolah.

“Sebelum makan bersama, semua anak harus mencuci tangannya dengan sabun sampai bersih. Yang tidak cuci tangan tidak diberi makanan,” kata Milka.

Selain itu, Biro Kesehatan dan PCI juga mengadakan pelatihan untuk guru-guru dan petugas kesehatan di Puskesmas tentang pendidikan higienitas dan sanitasi di sekolah (PHSS). “Sosialisasi juga kami lakukan melalui poster dan baliho,” kata Milka.

Sambil membudayakan cara hidup sehat, LPMAK juga melaksanakan program penyediaan air bersih untuk masyarakat di kampung-kampung. Harapannya, pola hidup sehat yang mulai terbangun akan semakin menjadi bagian hidup masyarakat karena mereka memiliki akses untuk mendapatkan air bersih.

Selain dapat mencegah kematian balita akibat diare, budaya hidup sehat juga dapat menghindarkan anak dan orang dewasa dari penyakit mematikan lainnya seperti penyakit tipus, avian influenza (flu burung) dan lain sebagai­nya. (*)

HINGGA kini jutaan penduduk Indonesia belum memiliki akses mendapatkan air bersih. Apalagi untuk kebutuhan air minum. Sedikitnya 70 persen penduduk Indonesia masih mengandalkan sumber air sungai—yang sudah banyak terkontaminasi—untuk keperluan sehari-hari, termasuk minum dan masak.

Akibat mengonsumsi sumber air yang tidak higienis ini, kualitas kesehatan sebagian besar penduduk Indonesia masih dibayangi penyakit dan kematian akibat penyakit diare. Kualitas air dari perusahaan air minum mau pun dari sumur pun masih belum memenuhi standar mutu yang memadai, sehingga sumber air ini haru diolah terlebih dahulu sebelum dapat diminum.

Sementara di negara-negara ma­ju, pengolahan sumber air bersih sudah sangat maju sehingga tanpa pengolahan air segar ini sudah dapat diminum.
Beberapa standar mutu baku sumber air bersih adalah berwarna jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa dan tidak mengandung zat-zat yang berbahaya. Tidak semua air bersih layak minum, tetapi air layak minum biasanya berasal dari air bersih.

Agar penduduk di wilayah pesisir Mimika, mempunyai peluang yang sama untuk mendapatkan hak-haknya atas sumber air bersih, Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK) melalui Biro Kesehatan telah melaksanakan program pembuatan air bersih di kampung-kampung pesisir Kabupaten Mimika, antara lain Kampung Aramsolki, Amungun, Fakafuku, Fanamo dan Omawita.

Biro Kesehatan LPMAK juga berupaya meningkatkan partisipasi masyarakat pesisir untuk membangun infrastruktur sumber air bersih antara lain pembuatan sumur gali, bak penampungan air hujan dan pembuatan jamban. “Tetapi air yang dihasilkan dari sumur maupun air hujan tidak bisa langsung diminum akan tetapi harus direbus terlebih dahulu,” kata Kepala Biro Ke­se­hatan LPMK, Yusup Nugroho.

Menurut Yusup Nugroho, pembangunan prasarana fisik ini harus dibarengi de­­ngan peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya hidup sehat agar kualitas kesehatan masyarakat meningkat. “Jika masyarakat memiliki kesadaran hidup bersih, maka fasilitas yang dibangun akan digunakan dan dirawat dengan baik. Jika fasilitas sudah ada tetapi perilaku tidak diubah maka fasilitas akan tidak digu­nakan dan menjadi sia-sia,” katanya.

Yusup berharap, pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan Mimika terus melakukan pendampingan kepada ma­syarakat agar kesadaran masyarakat tentang hidup sehat meningkat. “LPMAK telah membangun fasilitas, Dinas Kesehatan melalui petugas kesehatan di Puskesmas diharapkan memberi pendampingan kepada masyarakat,” kata Yusup.

Masyarakat dapat melakukan pengolahan sederhana terhadap sumber air bersih, sebelum dapat diminum. Antara lain merebus air bersih sampai matang (mendidih) dan biarkan  selama 3-5 menit untuk memastikan kuman-kuman yang ada di air tersebut telah mati.

Cara yang lainnya adalah mengolah sumber air bersih dengan mengguna­kan tenaga matahari (Solar Disinfection). Caranya, air bersih dimasukkan ke dalam botol, kemudian diletakkan di atas atap rumah selama 4-6 jam saat cuaca panas atau 6-8 jam saat cuaca berawan.

Panas matahari dan sinar ultra violet akan membunuh kuman-kuman yang ada di air sehingga air menjadi layak minum.

Selain itu klorinasi juga menjadi salah satu cara untuk mendapatkan air yang layak minum. Klorinasi adalah proses pemberian cairan yang mengandung klorin untuk membunuh bakteri dan kuman yang ada di dalam air bersih. (*)

Udah lama nga update blog. tulisan2 yang saya buat untuk tabloid ajah yang diposting. mau diposting di web kantor tapi webnya masih di redesign.

Berabad-abad  yang lalu, saya pernah menulis mengenai obat malaria terbaru yang namanya Duo-Cotexcin. Banyak pertanyaan baik yang di tulis di kolom komentar maupun via email.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut diantaranya : Duo-Cotexcin dapat di beli dimana? apakah obat ini bisa menyembuhkan malaria?

Duo-Cotexcin hanya tersedia di puskesmas maupun rumah sakit di Timika, Kabupaten Mimika yaitu Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM), Puskesmas Timika, Puskesmas SP 2, RS Waa-Banti dan Puskesmas Kwamki Lama (kalo nga salah :) ).

Duo Cotexcin tidak diperjualbelikan karena masih dibawah penelitian, dan saat ini Duo Cetexcin sudah tidak ada lagi sebagai gantinya yaitu ARTERAKINE. Bahan Obat dan khasiatnya sama, hanya beda nama dagangnya saja dan tersedia di tempat-tempat yg sudah saya sebutkan tadi.

Dua minggu lalu saya terserang malaria Tropika plus 4 dan istri plus 2.  Kami berobat di RSMM dan diberi ARTERAKINE dengan dosis 4 x 1 selama 3 hari ditambah pil primaquin 3 butir minum pagi hari. Menurut kawan saya yang seorang peneliti malaria dosis obat tersebut tergantung berat badan pasien.

Tiga hari kemudian setelah minum ARTERAKINE, malaria langsung lewat. Obat ini dapat menyembuhkan Malaria Tropika maupun Tertiana.

CATATAN: ARTERAKINE hanya ada di puskesmas dan RS tertentu dan belum di jual bebas.

uah akhirnya ngeblog juga setelah off beratus tahun lamanya :)

Mau semua urusan mudah?? gampang tinggal pake jalur khusus, dijamin semua urusan lancar. Bukan bermaksud mengajak menggunakan jalur ituh tapi ini sekadar pengalaman yang mungkin berguna :D (padahal hanya karena rasa kesal aja makanya di posting).

Waktu saya urus SIM C lewat jalur yang benar habisnya 250 ribu (pdhl sejatinya hanya 75ribu)sedangkan SIM C tembak 300 ribu. Hanya beda 50 ribu, mana yang ada pilih?? mengikuti peraturan yang dalam prosesnya sangat berbeli-belit ato tembak hanya beda 50 ribu, proses cepat dan hanya tinggal ambil sidik jari kemudia foto jadi deh SIM C

Begitu juga KTP, harga ngurus hanya lima ribu tapi kalo lewat perantara bisa 50ribu dan sehari jadi. Kalo ngurus sendiri murah yah jadinya lama, karna di republik ini sesuatu yang mudah dipersulit dan sesuatu yang sulit bisa dipermudah semua hanya satu alatnya UANG.

Kalau ada UANG semuanya lanca…………….R

Tadi ngurus kartu kelurga milik seorang teman, saya ke kepala kampung, beliau menyarankan agar membeli blangko terlebih dahulu di kantor kecamatan seharga lima ribu begitu di kecamatan ternyata harganya sepuluh ribu (korup lima ribu).

Blangko kartu keluarga sudah ditangan tinggal mengikuti jalurnya untuk tanda tangan yaitu Ketua RT, Kepala Kampung dan Camat. Sesampainya dirumah ketua RT, setelah basa basi samapai basi. Ketua RT memberikan balngko yang sudah ditandatangani oleh Camat, Kepala Kampung dan RT.

Katanya ganti ongkos transport, satu tandatangan sepuluh ribu, karna ada tiga jadi 30 ribu tapi si RT minta 100 ribu. Berhubung tuh kartu keluarga sangat dibutuhkan saya pun menyanggupinya dengan pertimbangan daripada buang2 waktu dan tenaga lebih baik bayar saja walaupun terlampau mahal :( .

Apa sih yang tak bisa dibeli di REPUBLIK ini??? semua bisa dibeli Hati Nurani ajah bisa apalagi kartu keluarga, SIM dan KTP…

Malas menggunakan jalur resmi karna ituh tadi yang mudah jadi sulit, yang sulit jadi mudah….. uuh…..

RESPEK (Rencana Strategis Pembangunan Kampung), sebuah program dari pemerintah Provinsi Papua dimana setiap kampung mendapatkan RP 200 juta. Pencairan dana dua tahapan yaitu pada tahap pertama Rp 100 juta. Setelah tahap pertama digunakan dan dapat di pertanggungjawabkan maka dana tahap kedua bisa dicairkan.

Dengan dana itu pemerintah berharap kampung-kampung menjadi maju dalam hal pembangunan. Tiap kampung bebas menggunakan dana itu untuk membangun fasilitas yang dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat. Memang ada mekanisme dan skala prioritas mana yang terlebih dahulu dibangun, semua itu harus disepakati oleh badan musyawarah kampung yang dipilih oleh masyarakat.

Akan tetapi Program RESPEK tidak semua berjalan sesuai dengan harapan. Tak perlu jauh-jauh mengambil contoh kegagalan RESPEK, di kampung saya tinggal dana RESPEK tahap satu sejak tahun lalu dikucurkan tapi tidak ada pembangunan yang berjalan.

Memang ada beberapa jalan yang sudah diaspal tapi itu tidak menggunakan dana RESPEK. Seperti jembatan yang di kompleks saya, baru saja selesai dikerjakan akhir januari lalu. Saya mengira pembangunan jembatan itu bersumber dari dana RESPEK, ternyata itu dari Program Pembangunan Distrik tahun 2007.

Semakin membingungkan proyek 2007 kok baru dikerjakan awal tahun 2009?? yang jelas Program RESPEK dikampung saya gagal total. Dan yang jadi pertanyaan kemana dana Rp 100 juta ituh?? siapa yang menghabiskannya??

Ah niat baik seorang pemimpin tanpa dukungan bawahannya, maka sebagus apapun program ituh tetap saja tingkat keberhasilannya rendah. Memang dibutuhkan orang-orang yang bekerja dengan hati untuk membangun tanah ini. dicari!!


Sapaan penulis

SELAMAT DATANG dan SELAMAT MENIKMATI. Blog ini dibuat untuk menampung tulisan2ku baik yang telah dimuat di tabloidku maupun kisah2 perjalanku, juga tempat menuangkan segala macam uneng2 pribadi. Jika merasa keberatan JANGAN MENGAKSES blog ini. Tapi jika Anda tetap bersikeras mengakses blog ini, saya mengharapkan kritik dan saran serta pertanyaan, silakan beri komentar.

Tentang Landas

LAndAS, buletin internal Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK), untuk selengkapnya silakan kunjungi tautan LPMAK.

a

Arsip

Penanggalan

Januari 2012
M S S R K J S
« Apr    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

yang Mampir

  • 97,826 Pelancong

Yang Iseng Saat Ini

who's online
Add to Technorati Favorites
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.