warga banti mendulangSisa penambangan emas (tailing) yang dilakukan PTFI mengalir melewati sungai di Kampung Banti hingga pantai. Kampung Banti sebuah perkampungan Suku Amungme yang terletak di Distrik Tembagapura, Mimika dan berada di wilayah operasi PT Freeport Indonesia kurang lebih 5 Km dari Tembagapura.

Sisa penambangan emas PTFI itu menyisakan rejeki bagi penduduk di Mimika. Tailing itu masih menyisakan butiran emas maka tak heran jika disepanjang sungai banyak orang yang mendulang secara tradisional mulai dari Kampung Banti hingga di pesisir pantai.

Dari seluruh warga Kampung Banti, sebagian warganya yang tidak bekerja melakukan usaha mendulang emas dari sisa penambangan emas PTFI . Mereka melakukannya sejak tahun 1998.

Pada tanggal 26 Februari 2006, terjadi pengusiran terhadap penduduk setempat yang melakukan pendulangan emas dari sisa-sisa limbah produksi Freeport di Kali Kabur Wanamon. Pengusiran dilakukan oleh aparat gabungan kepolisian dan satpam Freeport. Akibat pengusiran ini terjadi bentrokan dan penembakan. Penduduk sekitar yang mengetahui kejadian itu kemudian menduduki dan menutup jalan utama Freeport di Ridge Camp, di Mile 72-74, selama beberapa hari. Jalan itu merupakan satu-satunya akses ke lokasi pengolahan dan penambangan Grasberg. Selengkapnya disini.

jembatan-gantung-penghubung-kampung-banti-i-ke-banti-ii.jpgSetelah kejadian tersebut terbentuklah sebuah forum perkumpulan masyarakat pendulang yang difasilitasi oleh Pemda Mimika. Dengan adanya forum itu masyarakat leluasa saat mendulang.

Cara mereka mendulang sangat tradisonal. Tailing yang berupa lumpur di masukkan kedalam ayakan kemudian dialiri air, tailing tersebut di tapis hingga terpisah antara batu, pasir, dan butiran emas. Berbeda jika mendulang mengunakan kuali, tailing dimasukkan kedalam kuali kemudian didalam air kuali digoyang hingga butiran emas mengendap kebawah kuali.

Setiap keluarga membentuk satu kelompok yang terdiri dari 4 sampai lima orang. Aktifitas mendulang banyak dilakukan oleh ibu-ibu dan anak-anak karena kebanyakan para pria bekerja di PTFI.

Dalam satu hari mereka bisa mendapatkan 10 gram emas, satu gram dijual dengan harga Rp 150.000- Rp 200.000. Lokasi mendulang itu di tepi sungai tempat mengalirnya tailing. Tailing mengalir dari sungai Wanamon di pegunungan hingga pesisir pantai. Mendulang menjadi mata pencaharian bagi warga Banti karena tidak adanya tempat menampung hasil pertanian mereka dan dinilai lebih menguntungkan jika dibandingkan dengan bertani.

Tidak ada alat keselamatan dan keamanan bekerja saat mendulang meskipun pekerjaan mereka berisiko. Mereka bekerja tanpa masker, sarung tangan atau peralatan keselamatan kerja lainnya. Padahal bau yang menyegat tercium dari tailing tersebut yang tentunya tidak baik bagi kesehatan. Lokasi mendulang di tepi sungai sangat membahayakan keselamatan, lumpur yang mengalir begitu deras membelah bebatuan di sungai itu. Tidak ada alat keselamatan untuk melindungi mereka jika suatu saat terjadi banjir.

Mereka sebenarnya tahu kalau cara mereka mendulang penuh risiko dan berbahaya. Akan tetapi mendulang lebih menguntungkan jika dibandingkan dengan bertani atau berternak. Upaya yang seharurnya dilakukan pemerintah maupun pihak-pihak terkait adalah memfasilitasi warga untuk meningkatkan usahanya demi perbaikan ekonomi masyarakat, serta membenahi aspek keselamatan dan kesehatan.