Dua minggu lalu, saya bertemu seorang kenalan yang bekerja di Instansi Pemerintah (Maap nga perlu disebutin). Kami pun bercakap2 mengenai pekerjaan.

kenalan: “Namumu ada di daftar penerima uang transport”
saya: “kan saya sudah bilang saya nga mau ambil amplop itu, saya sudah
dikasih uang transport ama kantor”

kenalan: “ah yang lain sudah ambil, biasalah kalo cuma uang transport
dan memang ada anggarannya”

Lalu saya dengan sedikit pengetahuan menjelaskan betapa seorang
jurnalis/wartawan itu tidak diperkenankan menerima apapun saat menjalankan tugas.

kenalan: “tapi kalau disini biasa itu dapet uang transport”
saya: ” biarkan saja mereka, yang jelas saya tidak mau ambil amplop itu, dan lain kali jangan masukkan nama saya sebagai penerima amplop”

Karena seringnya tenteng kamera kesana kemari dan sekali menghadiri
acara di instansi tersebut, saya sudah dibilang seorang wartawan :D

Tapi sebenarnya baru mau belajar jadi wartawan :D

Di Timika memang sudah seperti ini keadaannya, Amplop bukan barang yang haram bagi jurnalis malah jadi sesuatu yang wajib. Pernah ketika Kantorku ada acara dan diliput oleh media, lalu seorang oknum wartawan berbisik kepada teman saya “ada amplopnya kah”
Teman: “tidak tahu ya, mungkin ada”
oknum wartawan: “sepertinya ada, paling sedikit, saya pulang saja”

Sebenarnya uang transport itu dilarang ato nga seh bagi para jurnalis saat peliputan??? Tapi kalo menurut saya itu diharamkan, soalnya jika jurnalis ambil amplop, biasanya ia akan menulis berita lebih berpihak ke orang/instansi yg ngasih amplop dengan menghilangkan sedikit fakta.

Aaah…. Wartawan2 Amplop Itu!!!!