Kurang lebih 24 tahun sudah kami menjadi umat kristiani. Selama itu pula perayaan Natal dirayakan dengan cukup sederhana. Rumah hanya di cat tanpa asesoris lainnya sementara kue Natal seadanya. Yang rutin dilakukan saat Natal selain ibadah tentunya hanya memotong Ayam atau Bebek sebagai santapan ucapan syukur sekeluarga.
Natal 2008 terasa sangat istimewa dan terlihat lain dibandung tahun – tahun yang telah berlalu. Terasa istimewa karena kami memiliki sebuah pohon Natal, meskipun hanya setinggi tiga kaki, kami menyambutnya dengan cukup gembira. Setelah mengecat rumah, saya merakit pohon Natal namun sial saat merangkai lampu padam. Dengan ditemani lilin dan dikelilingi oleh Bapak, Ibu, Adik dan Kakak, saya merangkai dan menghias pohon Natal.
Kami bersyukur bisa memiliki sebuah pohon Natal dan menyambutnya dengan rasa haru. Lonceng, kado, tongkat, dan lampu kerlap kerlip semua sudah terpasang. Semua asesoris terpasang namun sayang saya lupa membeli sebuah bintang yang seharusnya dipasang di ujung pohon, keesokan harinya saya pergi membeli namun pada beberapa toko yang menjual asesoris Natal, bintang yang saya cari tak ada.
Akhirnya pohon Natal pertama kami hadir tanpa sebuah bintang namun kami tetap menyambutnya dengan penuh ucapan syukur dan sukacita.


2 komentar
Pengumpan komentar untuk artikel ini
Desember 31, 2008 pada 6:41 am
regita
Yesterday we learn, today we practice, tomorrow we achieve…
May God bless you and your family in the coming year.
Have a great holiday and a very happy New Year 2009..!!
Januari 28, 2009 pada 5:11 am
Blog Competition 2009
Regita, selamat memasuki tahun yang baru. Semangat baru dan tetap gigih jauh lebih penting. Keakraban dalam keluarga, meski dalam kesederhanaan jauh lebih bermakna daripada sejuta kemewahan tanpa kedekatan hati satu sama lain.