You are currently browsing the category archive for the 'cerita' category.
Sudah empat kali saya ke Kaokanao. Kota tua yang benar-benar terlupakan, kota yang penuh sejarah namun masih sedikit tersentuh pembangunan. Di Kaokanao ada sebuah SMA Negeri, ketika saya berkunjung kesana saat itu telah selesai ujian akhir nasional.
Seperti biasa, saya dan kawan - kawan menginap di pastoran. Di situ kami bercengkerama dengan beberapa orang tua. Mereka bercerita bahwa siswa/i SMA itu tahun ini yang LULUS 0.09 % atau bisa dikatakan hampir semua TAK LULUS benar-benar menyedihkan. Menurut mereka guru-guru yang mengajar di SMA itu tak mengajar sampai berbulan-bulan, pantas saja mereka tidak lulus. Melihat kenyataan itu membuat geram para orang tua di Kaokanao.
Ah… benar- benar menyedihkan. Ada cerita lain. Di Kaokanao ada sebuah lapangan sepak bola, seperti kebanyakan lapangan di kampung tentunya lapangan itu ditumbuhi rumput liar. Upaya pemerintah untuk memperbaiki memang ada tapi, yah begitulah pemerintah bekerja asal-asalan. Di lapangan itu dibangun yang kata penduduk Kaokano adalah sebuah tribun penonton.
Tapi apa yang ada tampak bukan seperti sebuah tribun melainkan seperti panggung hiburan malah lebih cocok disebut PosKamling atau pos ronda. Bagamana tidak disebut sperti itu, dilihat dari bentuk bangunannya saja sudah tak menyakinkan dan tak layak disebut tribun penonton.
Sebenarnya apa seh tujuan pemerintah membangun tribun seperti itu?? mungkin maksudnya baik tapi pelaksanaannya saja yang asal-asalan, bagaimanapun juga yang penting PROYEK.
Pekan Lingkungan Indonesia & CSR Indonesia Expo 2008
Kamis, 5 Juni 2008 hingga 8 Juni 2008, saya mengikuti Pameran Pekan Lingkungan Indonesia & CSR Indonesia Expo 2008 di JCC. Pameran tersebut dihadiri oleh Menteri Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar, Menteri Perumahan Yusuf Asy’arid dan secara resmi dibuka oleh Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie.
LPMAK berada satu stand dengan PTFI selain itu juga turut Forum Kemitraan Pengelolaan Lingkungan Hidup Papua (FKPLH) mengenai program lingkungan di Provinsi Papua. Pameran tersebut dikunjungi oleh para pemerhati di bidang CSR, pejabat pemerintah, aktivis kemasyarakatan, pengusaha dan para mahasiswa.
Ini pengalaman terbaru yang saya alami mengikuti pameran berskala nasional. Banyak pengunjung yang ingin mengetahui program-program yang di kelola LPMAK dan apa yang telah dilakukan PTFI untuk masyarakat di Mimika. Selain itu ada pula pengunjung yang sekadar mengkritik maupun memberikan saran-saran.
Namun sangat disayangkan ketika seorang pengunjung bertanya kepada saya tentang Forum Kemitraan Pengelolaan Lingkungan Hidup Papua (FKPLH), saya kebigungan dan menoleh kekanan dan kiri unntuk mencari orang yang dapat menjelaskan mengenai FKPLH. Usaha saya sia-sia, teman-teman dari PTFI pun kebingungan. Seharusnya yang menjaga dan menerangkan poster yang dibuat FKPLH adalah pejabat dari Bapeldalda Papua.
Hari pertama saat persiapan stand pejabat itu ada setelah itu tak tahu dimana rimbanya hingga saat membereskan stand sang pejabat yang terhormat beserta krunya baru muncul di stand. Memang sangat disayangkan kesempatan yang baik untuk memberikan informasi kepada masyarakat Jakarta tidak digunakan dengan baik. Perjalanan dianas digunakan untuk jalan-jalan keliling Jakarta.
Sebenarnya mereka itu mau ikut pameran atau hanya menggunakan pameran sebagi kedok untuk bersenang-senang. Aah….. benar-benar mental pejabat….
Sedikit kisah tentang pameran, kisah lain mengenai saya akan ditulis lain kesempatan
Sambungan kemarin
Dari obrolan sekitar dua jam, kami yang datang sedikit menyinggung mengapa Pak Allo tidak mencalonkan menjadi Bupati dan kami memberi jaminan jika Ia mencalonkan diri sudah dipastikan akan menang meskipun tanpa kampanye. Kami berani memberikan garansi seperti itu karena selama beliau memimpin Mimika menjadi lebih baik jika dibandingkan dengan lima tahun yang lalu.
Dengan bijak Bupati mengatakan bahwa Ia tidak mampu memenuhi permintaan partai politik agar memberika sejumlah uang. Di Mimika satu koalisi ada yang berjumlah 10 Parpol dan setiap parpol meminta sekitar Rp. 600 juta.
Dengan jumlah uang sebanyak itu dikalikan 10 parpol tentunya jumlah yang sangat besar. Jangankan Rp 6 Miliar, Rp 600 juta saja jumlah yang sangat besar, begitu katanya kepada kami. Selain masalah keuangan, salah satu tujuannya menjadi penjabat Bupati untuk menyukseskan Pemilu Kada Mimika sehingga tidak dapat mencalonkan menjadi Cabup.
Jika Pemilu Kada berjalan dengan lancar tanpa terjadi sesuatu yang diinginkan, masa jabatannya akan berakhir. Akan tetapi karyanya tak akan dilupakan oleh masyarakat di kabupaten ini. Mimika sebenarnya membutuhkan pemimpin yang benar-benar merakyat seperti yang ada dalam diri Bupati saat ini. Dengan APBD yang melimpah, mestinya Mimika menjadi Kabupaten yang maju dalam hal insfrastruktur maupun kualitas pendidikan dan kesejahteraan masyarakatnya. Yang terjadi malah sebaliknya uang melimpah Mimika seperti tak ada perkembangannya, hanya penduduknya saja yang semakin tahun semakin meningkat sekitar 10 persen.
Selain bercerita mengapa Ia tidak mencalonkan diri menjadi Bupati untuk periode ini, Ia juga bercerita tentang pengalamannya saat mengunjungi Distrik Jita. Di Distrik itu, pusat pemerintahannya sangat jauh dari pemukiman penduduk. Ketika Ia datang, Ia disambut oleh Kepala Distrik. Ia cukup heran sebuah Distrik yang ditumbuhi rumput liar yang tingginya hamper setengah badan orang dewasa.
Di Jita jarak Puskesmas dengan Kantor Distrik sekitar satu kilometer, Polsek juga satu kilometer, kemudian jarak pemukiman penduduk dengan kantor Distrik sekitar satu jam perjalanan. “Saya heran siapa yang bangun Distrik seperti ini,” katanya kepada kami dengan wajah yang penuh rasa heran.
Seperti layaknya seorang teman, Bupati sedikit curhat kepada kami. Ia menilai program pendidikan yang menelan ratusan miliar rupiah seakan sia-sia. Banyak gedung sekolah yang berada di kampung-kampung di Mimika oleh Dinas P & P kebanyakan tak digunakan dan kondisinya tak layak pakai.
Di Jila (kalau saya tidak salah dengar
) ada sebuah gedung sekolah yang benar-benar tak digunakan, ketika ia berkunjung ke daerah itu, menurut masyarakat setempat gedung itu tak pernah digunakan dan tak ada satupun guru apalagi murid.
Tetapi yang di tulis di Koran seorang pejabat Dinas P & P mengatakan bahwa didaerah itu ada aktifitas belajar mengajar . Membaca berita itu rupanya Bupati geram, “Saya akan cari orang yang bicara seperti itu dan akan saya kipas dia,” katanya disambut tawa kami.
Pandangan-pandangannya serta pemikirannya untuk Mimika di masa depan ada dalam dirinya akan tetapi tak akan terealisasi karena jabatannya akan segera berakhir. Mudah-mudahan Bupati yang terpilih nanti bisa meneruskan apa yang sudah di rintis oleh Bupati saat ini, Allo Rafra, SH.
SEMOGA….
Seperti mimpi di siang bolong, saya tidak menyangka hari ini bisa bertandang ke rumah sekaligus kantor Penjabat Bupati Mimika, Allo Rafra. Memang bukan kali ini saya bertemu bupati. Dalam berbagai acara saat dihadiri oleh bupati, saya ada untuk mengabadikannya.
Tapi kali ini benar-benar spesial, saya bisa ke ruang kerja bupati dan mengambil foto secara langsung satu lawan satu. Keperluan saya dan teman-teman dari KPAD Mimika untuk mengambil gambar bupati dan akan dijadikan bahan pembuatan poster tentang HIV/AIDS.
Kami hanya diberi waktu lima menit, karena bupati sudah sangat lelah dengan segudang pekerjaan dan permasalahan yang harus di selesaikan. Tapi ternyata bukan hanya lima menit kami bercengkrama akan tetapi sekitar dua jam.
Sambutan pertama yang keluar dari mulut bupati, “jadi bupati itu tidak enak, kalian kira enak kah”. Kami hanya tertawa kecil. Setelah mengutarakan maksud kedatangan kami, bupati menyambut baik. Yang ada dalam pikiran saya saat itu, selesai menjelaskan maksud dan tujuan kami kemudian dilanjutkan dengan pemotretan.
Tapi yang terjadi bupati bercerita ngalor ngidul. Ia menceritakan permasalahan yang dihadapi di Kabupaten Mimika serta pandangan-pandangannya kedepan untuk Mimika.
Kurang lebih setahun Ia memimpin kabupaten ini dan telah menghasilkan karya yang cukup luar biasa, pembangunan jalan dan proyek-proyek fisik lainnya sudah berjalan dan terbukti. Banyak sekali cerita yang dapat saya tuliskan disini tapi saya pun sudah lelah dan harus segera pulang.
Tunggu postingan dilain kesempatan ![]()
Senin (19/5) PEMILU KADA Mimika digelar, banyak kendala mulai dari salah nama hingga pemilih tak terdaftar tapi bagaimanapun itu pemilukada tetap digelar dan telah selesai dilaksanakan.
Saat pencoblosan ada kejadian lucu di TPS kampung saya, seorang ibu tidak mendapatkan kartu pemilih, kemudian ia mendengar bahwa tanpa kartu pemilih pun bisa asal mempunyai KTP. Ia pun ikut mengantri, saat gilirannya ia ditolak oleh petugas. Petugas menyarankan agar melihat daftar yang ditempel. Jika dalam daftar itu ada namanya, maka tanpa kartu pemilih tetap bisa ikut memilih dengan menunjukan KTP.
Si Ibu kemudian mencari namanya, namun sial namanya tak tercantum dalam daftar. Si ibu menghadap petugas, lalu petugas itu menyarankan agar si ibu pulang dan tak usah memilih. Dengan spontan ibu itu berkata,”Wah Kalo saya nga nyoblos ntar nga dapat duit, ya rugi saya”.
Semua orang yang mendengar kata itu lantas tertawa dan sang petugas memberitahukan pada si ibu bahwa disini hanya untuk nyoblos bukan bagi-bagi duit.
Ibu itu sudah terhasut dengan desas desus bahwa kalau memilih pasangan ….. atau …. akan di beri uang. Atau apakah memang ada praktek money politik??? Saya tidak tahu
tanyakan saja ke Panwaslu ![]()
Hari ini Senin (19/5), PEMILU KADA Mimika berlangsung. Masyarakat se Kabuaten Mimika berbondong-bondong ke TPS terdekat, jika biasanya di pagi hari jalanan ramai dengan kendaraaan berlalulalang, hari ini sedikit lenggang. KPUD Mimika sepertinya kurang siap dan terkesan memaksakan agar Pemilu Kada segera dilakukan.
Di Kampung saya, hingga tadi malam banyak warga yang belum mendapatkan kartu pemilih. Kebetulan saya dan Ketua Panwaslu pernah satu kantor sehingga saya mempertanyakan masalah kartu pemilih yang belum dibagikan. Lalu ia menjelaskan dan memberitahukan petugas TPS di wilayah kampung saya.
Malam berlalu hingga pagi tiba, seorang tetangga dengan tergesa-gesa memberikan lembaran bukti tanda terima kartu pemilih beserta kartunya ke rumah saya. Dan ternyata kartu yang dibagikan tidak sesuai dengan nama kami. Dari lima buah kartu yang kami terima semua menggunakan nama orang lain. Nama saya menjadi AGUS IWAN Kelahiran tahun 1969. (Tua Bangetz….
) meskipun alamatnya sama.
Itu masalah kartu pemilih yang dibagikan dengan sembarangan. Ada lagi bukti bahwa KPUD belum siap yaitu pagi tadi kawan saya melihat panitia masih sibuk menarik tenda dan membuat TPS. Seharusnya semua masalah kartu pemilih dan TPS sudah siap pada H -2 atau H-1 sehingga pada hari H pemilih tinggal memilih bukan masih sibuk dengan kartu dan membuat TPS, semua itu terkesan PEMILU KADA Mimika dilakukan tanpa persiapan yang matang dan terburu-buru.
Kalau saya mendapatkan kartu pemilih dengan nama dan usia yang tuaaaaa. ada orang lain sama sekali tidak mendapatkan kartu. mudah-mudahan PEMILU KADA Mimika berjalan dengan baik dan aman. SEMOGA…..
Sejak kamis lalu sudah mulai libur tapi pada rabu sore ada sebuah undangan utuk menghadiri penanaman dusun sagu di nayaro dan saya yang ditunjuk untuk mengikuti acara tersebut–nga ada orang lg seh
. Meskipun libur sebagai bawahan yang baik dan sudah menjadi bagian dari pekerjaan, saya tetap menghadiri acara itu. lagian diitung lembur kok
Tidak seperti biasanya, saya selalu membawa jaket. Tapi kali ini saya meninggalkan jaket kulit di kantor dan pergi dengan asumsi di Nayaro pasti panas akan tetapi justru sebaliknya, hujan lebat mengguyur Nayaro. Turun dari bis, saya tidak dapat mengambil gambar, sayang kameranya ntar rusak kena air
Kemudian saya berlari mendahului rombongan Bupati, Danlanal, Danlanud, Uskup dan pejabat lainnya yang berjalan dengan dilindungi payung, sedangkan saya berlari tanpa payung, sekujur tubuh basah. Sampai di Tenda, saya bisa menggambil gambar meskipun kamera sedikit kena air. Untungnya hujan tak lama. Saat penanaman, hujan berhenti total.
Tapi bagaimanapun juga akibat air hujan yang mengguyur saya, kepala jadi pening dan terasa berat.
Uuh.. mudah2an tidak sakit nanti.
Anak lelaki kecil itu duduk bersila di lantai. Dihadapannya ada semangku mie rebus. Tangannya yang kecil meraih sebuah sendok, lalu mengambil mie dari dalam mangkuk dan ia memindahkan dua sendok mie ke piring kecil agar lebih cepat dingin. Setelah dingin ia menyantap mie tersebut. Cara itu sering dilakukannya jika hendak menyantap mie, baik yang rebus maupun mie goreng.
Sejak ia dilahirkan ke dunia, ia menjadikan mie sebagai makanan yang paling digemari. Saat ini usianya enam tahun dan selama itu ia tak pernah memakan nasi walaupun hanya satu butir saja. Mengonsumsi mie instant sudah menjadi kebiasaan. Ketika ia masih kecil, semua jenis makanan bayi hanya sampai di mulutnya saja. Selebihnya dimuntahkan.
Jangankan untuk makan nasi, mencium aroma uap nasi panas saja ia langsung muntah. Seperti orang mabuk laut atau mabuk karena minuman keras. Suatu hari ketika Ibu dan Kakak sedang asyik menonton tivi, tiba-tiba anak kecil itu menangis sejadi-jadinya padahal tak ada yang menganggunya. Ia sendirian didapur. Mendengar tangisan yang sangat keras, Ibu dan Kakak serentak menuju dapur, mereka mengira anak kecil itu kena pisau.
Sesampainya di dapur, anak kecil itu mengangkat kakinya dan berkata, “Ada nasiiiii……” sambil menjerit-jerit dan menangis sekencang-kencangnya. Ibu lalu mengambil sebutir nasi yang terselip diantara jempol kaki dan telunjuk kakinya. Seketika itu Ia langsung diam dan melanjutkan kegiatannya.
Jika kami makan, maka kami yang harus mengalah karena ia akan berteriak-teriak dan lebih parah lagi, ia akan memuntahkan semua isi perutnya saat itu juga. Tapi berbeda ceritanya jika kami bersama-sama menyantap sate. Ia tak mencium bau nasi dan seakan tak peduli dengan nasi disampingnya. Ia melahap sate dengan nikmatnya.
Ada cerita lagi, suatu hari ada seorang penjual sate lewat di depan rumah kami. Anak kecil itu menangis dan meminta Ibu untuk membelikan sate. Ibu mau membelikan sate asal makan dengan nasi. Anak kecil itu menyanggupinya. Dihadapannya sate dan nasi tersedia, lalu ia mengambil satu tusuk sate kemudian satu sendok nasi. Ajaib, ia tidak muntah. Ia mengunyah-nguyah dan lebih ajaib lagi daging sate bisa di telan tapi nasi tertinggal dalam mulutnya lalu dikeluarkan dan dibuang.
Enam tahun sudah ia tak pernah makan nasi, untuk makanan sehari-hari, ia mengonsumsi mie instan, pentolan, susu ultra dan makanan ringan lainnya. Bujukan maupun rayuan agar ia makan nasi semuanya sia-sia bahkan saya berjanji akan membelikan sepeda jika bisa makan nasi tapi tetap saja tak berhasil, ia memilih tak memiliki sepeda daripada makan nasi.
Adakah cara agar adik kecil saya bisa makan nasi seperti saya??
Ada satu hal yang menjadi kebiasaan atau mungkin sudah tradisi bagi Suku Kamoro. Selain Senyum dan Ucapan selamat saat bertemu seseorang, panggilan Bapa, Mama atau Anak sering terdengar.
Ketika Saya berkunjung ke Kaokanao, salah satu pemukiman di daerah pesisir yang merupakan pemukiman suku Kamoro. Lelaki yang sudah tua dipanggil Bapa, Perempuan tua disapa Mama dan anak-anak muda maupun anak-anak dipanggil Anak. Tapi kalau anak kecil memanggil orang muda dengan sebutan Om.
Saya mendapat kehormatan dipanggil Anak :D . tentunya yang memanggil
seperti itu yah bapa-bapa atau mama-mama, kalau usianya dibawah saya, ya memanggilnya OM :D . Memang agak lain terdengar ketika saya dipanggil Anak, biasanya Emak atau
Bapak memanggil saya Le’ bahkan dengan nama langsung.
Tapi apapun panggilan semua itu tetap sopan tidak seperti di pasar atau di Timika Kota, memanggil orang yang tak dikenalnya dengan panggilan Oiiii… atau Sssst…. Eh eh, Benar-benar tidak sopan dan tak tahu aturan. Minimal kalau tak kenal kan bisa dengan sebutan Om atau Pak bahkan Mas
Sejak pertama kali bertemu, entah sudah beberapa bulan yang lalu ternyata baru ku sadari bahwa aku jatuh cinta.
Ya, aku saat ini sedang jatuh cinta. Engkau begitu indah dan menggagumkan saat dipandang, membuat pikiran ini melayang dan ingin sekali aku menyentuhmu.
Ingin sekali aku menghabiskan waktu bersamamu saat senja mulai tampak hingga menghilang di kegelapan malam. Oh Sunset di perairan sungai wania engkau begitu indah dan menawan. Tak bosan diri ini untuk terus memotretmu.
Jumat lalu saya, beberapa teman beserta 2 orang dari TVRI Papua dan dua orang dari Persipura ke Kaokanao. Tujuan kami utuk melakukan diskusi sekaligus survey untuk membuat Sekolah Sepak Bola. Dalam rombongan itu, ada dua orang perempuan. Berangkat pukul 5 sore dari perairan Cenderawasih sampai di Kaokanao pukul 9 malam. Tidak seperti beberapa bulan yang lalu saat ke Kaokanao saya tidur di geladak pelabuhan Atapo tapi kali ini persiapan cukup baik sehingga kami dapat beristirahat di asrama milik pastoran Kaokanao.
Malam kami beristirahat, tapi sayang saya dan beberapa orang teman tidak dapat menikmati tidur. Selain nyamuk yang ganas, suara ngorok seorang teman membuat kami tak dapat tidur. Malam hingga pagi hari gerimis. Saat kami datang ke Kakokanao, jalan maupun lokasi seluruh Kaokanao sangat becek karena sedang musim air pasang sehingga air naik merendam seluruh Kaokanao.
Sabtu siang kami mengadakan pertemuan dengan Camat setempat dan tokoh masyarakat Kaokanao. Setelah pertemuan kami berkemas dan akan kembali ke Timika. Pukul tujuh malam kami meninggalkan Kaokanao. Keperian kami diiringi tangisan dari beberapa orang yang mengantar kami sampai Pelabuhan Atapo.
Kami mengarungi sungai di kegelapan malam. ditengah perjalanan salah seorang Ibu dituntut panggilan alam (halah pengen pipis). Kamipun mencari daratan yang bisa tempat berlabuh boat dan juga bisa kami singgahi untuk mengantar si Ibu pipis.
Ah ternyata ribet jadi perempuan itu. Pipis aja musti nyari tempat yang nyaman, berbeda dengan laki-laki kalo ingin pipis tak perlu mencari daratan. Berdiri saja dibelakan dan bisa pipis dengan risiko aliran pipisnya berlengak-lengok mengikuti hembusan angin
. Ini pengalaman pribadi daripada menahan pipis dan ginjal jebol lebih baik hambur aja dibelakang boat
.
Untung di Indonesia ada satu bahasa pemersatu yaitu Bahasa Indonesia, seandainya tidak ada, saya orang yang paling tersiksa dalam bekerja :D . Di Kabupaten Mimika ada 7 suku asli yaitu, Amungme, Kamoro, Dani, Damal, Mee, Moni dan Nduga. Setahu saya pasti satu suku satu bahasa.
Harus benar-benar sensitif telinga saya kalu mendengar cara mereka mengucapkan kata dalam bahasa indonesia kecuali Suku Kamoro mereka bahasa indonesianya sudah cukup fasih. Berbeda dengan keenam suku yang lain, khususnya masyarakat yang tidak mengenyam pendidikan dengan cukup baik.
Kata-kata bahasa Indonesia diucapkan dengan lidah mengikuti seperti mengucapkan bahasa daerahnya. Seperti KSM, diucapkan dengan KSEM. Dan jadi Ndan, Susu jadi Cucu, bisik-bisik jadi bitik-bitik. Pokoknya jangan coba-coba mewawancari penduduk asli yang tidak begitu fasih dengan bahasa Indonesia tanpa membawa seorang guide, bukan berita yang didapat tapi kepala pusing mereka-reka apa kata yang diungkapkan tadi.
Sayapun mengalaminya saat ikut monitoring maupun sosialisasi program. Saya tidak mendengarkan mereka percuma tidak mengerti, dengarkan penerjemahnya saja. Kalau hanya sekali atau dua kali bisa saya catat tapi kalau sampai sehari terus diskusi dengan bahasa daerah… wuiih…. nunggu aja acara selesai dan minta point-pointnya dari guide
Tidak bermaksud meremehkan mereka tapi begitulah faktanya. Papua memang hebat, ada orang-orang jenius sampai bisa ke NASA tapi ada juga orang-orang yang berkuliah tapi sama sekali tak bisa membaca.
Jadi setiap ada kegiatan apapun yang melibatkan per suku, memang lebih efektif menggunakan bahasa daerah.

SMP N 2 Timika merayakan ulang tahun ke 17, Sabtu (29/3). Selain Ultah, juga digelar reuni akbar angkatan 1-10. Tak banyak para alumni yang datang tetapi acara tetap meriah.
Teman-teman seangkatan saya yang datang bisa dihitung dengan jari. Terutama yang cewek, meskipun mereka tidak membawa anak dan suaminya. Wajah-wajah mereka sudah Ibu-ibu (nga segar lagi
).
Tak semua cewek sudah menjadi seorang ibu. Ada beberapa adik kelas di SMP maupun STM masih single dan malah terlihat lebih cantik dan sueeeger…
.Guru-guru yang saya kenal tak banyak, kebanyakan guru baru. Guru pada masa saya sekolah kebanyakan sudah pindah atau menjadi kepala sekolah di sekolah lain.
Meskipun tak banyak teman-teman yang datang, bagi saya lumayanlah untuk refreshing dan menghilangkan sedikit kepenatan di Kantor.
Novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata sudah lama saya dengar saat saya masih di Balikpapan dan sampai masuk acara kick andy di Metro TV. Desas desus yang saya dengar tak memancing minat saya untuk membaca apalagi membeli
saya lebih cenderung membeli dan membaca buku-buku yang berbau komputer dan desain. Saat itu untuk novel bukan buku yang saya gemari.
Begitu kembali ke Timika, saya membaca semua jenis buku dan tiap bulan saya menyiapkan budget khusus untuk membeli buku, semua itu saya lakukan untuk mengisi waktu daripada nonton sinetron2 yang menyebalkan itu. Kemaren, saya berburu buku dan yang saya buru adalah Novel Laskar Pelangi. Beberapa toko buku yang saya datangi hanya menyediakan dua yaitu Sang Pemimpi dan Endensor sementara Laskar Pelangi tidak saya temukan (habis kale, kan dah lama
).
Selain harga yang mahal, tak banyak koleksi buku di Timika. Saya pun membeli dua buku tersebut. Ketika pulang ke rumah listrik dari PLN yang Brengsek itu padam. Dengan ditemani dua buah lilin saya membaca novel itu untuk mengusir rasa penasaran. Memang saat itu saya tidak menyelesaikan membacanya, saya hanya membuka mozaik demi mozaik.
Alangkah terkejutnya saya ketika melihat Mozaik 15, Ekstrapolasi Kurva yang Menanjak yang berakhir di halaman 213, nomor halamannya langsung berubah ke 247. Ada selisih 34 Halaman dan saya tak dapat membaca 1,5 bab. Hiks….
Kok bisa ya selisih sampai 34 halaman. seandenya hanya 2 ato 4 halaman saya masih memaklumi. Yang terjadi 34 halaman, kesalahan yang sangat besar. Novel yang bagus itu ketika saya membaca terkadang mengingatkan masa kecil saya saat berjuang dengan sekuat tenaga mulai dari pikul kayu dari hutan hingga jualan nasi kuning disekolah hanya untuk sekolah harus ternoda dengan kesalahan saat penjilidan.
Saya pun akhirnya mengirimkan email ke Penerbit dan memberikan komentar pada blog resmi Andrea Hirata.
Mudah-mudahan kejadian ini tidak terulang kembali dan Endesor yang saya beli lengkap tanpa cacat.
Dalam dunia mode, beraneka macam model rambut mulai dari mohak, shagy hingga rebounding. Di Timika ada sebuah model rambut yang sangat tradisional. Rambut ini bergaya tanduk, jadi rambut di ikat hingga seperti tanduk. Dalam satu kepala bisa empat atau lima bahkan lebih.
Kalau saya lebih suka menyebut dengan gaya antena
Seperti foto dibawah ini:
Model rambut seperti ini biasa dilakukan oleh penduduk asli di Mimika, bagaimana? Anda berminat
Foto diambil saat saya mengikuti kegiatan sosialisasi program di lembaga ini
Setelah menghabiskan malam di sepanjang perjalanan dan meninkmati dinginnya AC hotel bintang lima itu, kami menitipkan barang-barang ke salah seorang warga Kaokanao. Setelah itu, kami menelusuri kampung-kampung di Kaokanao. Seorang teman yang lahir di tempat itu menjelaskan seluk beluk kampung dan sedikit mengingat masa kecilnya.
Seperti kebanyakan kampung-kampung tradisonal, perumahan di Kaokanao rata-rata masih sederhana dan tradisional hanya ada beberapa yang terbuat dari kayu yang terlihat lebih baik, rumah itu milik pedagang. Semua rumah di Kaokanao dibuat panggung kecuali pasar, gereja dan masjid. Meskipun Kaokanao adalah kota tua di Kabupaten Mimika jangan berharap ada kendaraanyang lalu lalang. Ketika kami menelusuri perkampungan, hanya terlihat sebuah motor itu pun milik seorang pedagang.
Jumat (7/3) lalu, saya dan beberapa orang teman pergi ke Kaokanao. Tujuan kami kesana untuk melihat pabrik es balok dan pabrik pembuat kapal dari fiber bantuan dari USAID. Diperjalanan sejauh mata memandang hanya tampak hijaunya hutan bakau, rimbunnya pandan hutan dan coklatnya air sungai serta derasnya ombak di lautan.
Hari sudah mulai sore yang menuju Kaokanao. Setelah melewati sungai, kapal yang kami tumpangi menuju lautan karena air di sungai sudah mulai surut. Kami terombang ambing oleh ombak lautan yang malam hari itu agak deras. Selain menikmati guncangan ombak, kami pun dapat melihat indahnya sunset.
Surutnya air di muara yang menuju Kaokanao, membuat kapal yang kami tumpangi tak dapat melanjutkan perjalanan. Kami pun berhenti di Kampus Biru sambil menunggu air mulai pasang. Di Kampus Biru, kami membuat api unggun, memancing dan untuk mengisi perut yang mulai kosong kami membuat sagu bola-bola.
Sinetron-sinetron yang menyebalkan itu ternyata membawa berkah bagi saya. Berkah yang saya maksud bukan dari tontonan yang disajikan tapi dengan banyaknya pengemar sinetron di keluarga saya, saya jadi gemar membaca. Padahal dulu saya jarang sekali membaca, selain pulang kerja dini hari juga lebih banyak waktu saya gunakan untuk jalan-jalan.
Tapi begitu ke Timika, saya jadi malas jalan-jalan, maklum tidak ada t4 yang asik buat nongkrong. Yah daripada hanya tidur-tiduran ato nonton sinetron-sinetron yang menyebalkan itu lebih baik sebelum tidur saya membaca. Katanya seh kalo banyak membaca jadi banyak tahu dan banyak tahu jadi wawasan dan pengetahuan tambah luas.
Sayangnya mencari buku di Timika tidak banyak pilihan, jumlah dan jenis buku
terbatas selain itu harganya muaaaahal…… kemarin saya membeli buku
The Secret harganya Rp 109. 000 tapi mau bagaimana lagi nga ada pilihan sih.
Kalau mau pesan online lebih mahal biaya kirimnya daripada harga bukunya.
Seperti biasa pukul 6 pagi (lewat2 dikit) saya sudah bangun, setelah melakukan
semua persiapan saya siap pergi ke kantor. Pukul 07. 35 saya meluncur ke kantor, beberapa meter sebelum sampai di kantor, saya mampir untuk membeli nasi
kuning karena di rumah belum sarapan. Penjual sayur langganan itu tidak berjualan sehinnga tidak ada yang bisa dimasak kecuali nasi
Sesampainya di kantor saya menyantap nasi kuning itu. Setelah satu jam
dikantor saya baru sadar bahwa celana yang saya pakai ternyata robek.
Seandainya robek dibagian lutut atau paha tidak masalah, ini robeknya tepat di paha bagian dalam jadi sewaktu duduk angin sepoi-sepoi masuk kedaerah rawan
Saya dan seorang teman tertawa terbahak-bahak, ia menyaran agar saya tidak
usah ganti celana, katanya nga kelihatan jadi nga apa-apa. Tapi saya tak mengindahkan idenya, motor kreditan itu saya pacu sekencang-kencangnya menuju ke rumah hanya untuk menganti celana yang robek. Ibu saya pun sempat heran kok baru
jam 9 pagi sudah pulang.
Saya menceritakan kejadian yang saya alami dan Ia tertawa…..
setelah ganti saya pun menuju kesini
Untuk saja tidak ada Ibu-ibu dan Janda-janda di kantor yang lihat,
seandainya ada?? nga kebayang deh
Kejadian ini saya alami 4 hari yang lalu.
Pemerintah Kabupaten Mimika mengeluarkan kebijakan Ujian Nasional Tahun 2008 GRATIS/tidak dipungut biaya. Kebijakan tersebut tentunya disambut gembira oleh para orang tua/wali murid ditengah-tengah kebutuhan hidup yang serba mahal.
Mudah-mudahan saja kebijakan itu dapat terlaksana dengan baik serta tidak ada parktek kecurangan yang dilakukan pihak sekolah. Tahun lalu, ketika adik saya mengikuti Ujian Akhir Nasional harus membayar Rp 600.000. Alasan pihak sekolah uang itu sebagian akan digunakan untuk biaya perpisahan dan belum turunnya dana dari pemerintah. Dan pihak sekolah berjanji jika dana dari pemerintah sudah cair maka akan dikembalikan. Nyatanya sampai sekarang tidak ada kabarnya.
Keputusan Pemda Mimika menggratiskan biaya UN merupakan angin segar bagi orang tua/wali murid. Mengapa Pemda Mimika baru berani menggratiskan biaya UN saja? padahal di daerah lainnya SD hingga SLTA GRATIS.
Untuk sementara nikmati saja dulu UN gratis lumayan kan saya tidak mengeluarkan biaya tambahan buat adik-adik yang masih sekolah
sambil menunggu sekolah Gratis. Tapi KAPAN??
Dua minggu lalu, saya bertemu seorang kenalan yang bekerja di Instansi Pemerintah (Maap nga perlu disebutin). Kami pun bercakap2 mengenai pekerjaan.
kenalan: “Namumu ada di daftar penerima uang transport”
saya: “kan saya sudah bilang saya nga mau ambil amplop itu, saya sudah
dikasih uang transport ama kantor”
kenalan: “ah yang lain sudah ambil, biasalah kalo cuma uang transport
dan memang ada anggarannya”
Lalu saya dengan sedikit pengetahuan menjelaskan betapa seorang
jurnalis/wartawan itu tidak diperkenankan menerima apapun saat menjalankan tugas.
Bosan,ya aku telah bosan……
Hari-hari terasa monoton, jam 7.30 berangkat kerja, jam 5 sore pulang, sampai dirumah paling-paling tidur dan kadang2 membaca (itupun kalo ada majalah dan buku pinjaman).
Seharian bekerja di kantor sungguh melelahkan, meskipun pekerjaannya bisa dikatakan mudah tapi suasana kerja terasa tidak nyaman dihatiitu yang bikin bosan!!.
Ada orang yang bekerja santai…… dan yang serius…… ada rajin kerja dan ada juga yang malas… tapi semua mendapat perlakuan yang sama. mau rajin kek, mau malas kek dapetnya segitu juga malah ada yg lebih besar.
Jika tidak lembur, 17.30 sudah sampai di rumah. Sesampainya di rumah, aktifitas ya begitu-begitu saja, jarang mandi, baca buku atau tidur2an sambil menunggu kantuk datang.
Mau nonton TV, kalah suara, banyak pencinta sinetron… mulai dari Intan, Cahaya, Mentari, Mutiara, hingga Suci….. Sinetron2 itu bagi ku sungguh menyebalkan, selingkuh, rebutan harga, nangis2…. pokoknya menyebalkan.
Mau Mall to Mall nga ada Mall, mau nongkrong nga ada Kafe yang ada Bar2 ato Panti Pijat….. Kalo di Bar banyak asap rokok dan orang mabuk yag rese, sementara panti pijat identik dengan esek2…
uaaah bosaaaaaaaaaaaan…………. bagaimana caranya ngusir si Tuan Bosan??
Ketika membaca sebuah surat kabar, saya menemukan sebuah berita yang sangat bertolak belakang dengan yang terjadi di Timika. Inti beritanya seperti ini:
“Dua Ibu Rumah Tangga ditangkap oleh jajaran kepolisian Biak Numfor saat menjual KUPON PUTIH alias TOGEL. Menurut Kapolres Biak Numfor itu merupakan salahsatu bukti bahwa polisi serius dalam pemberantasan perjudian di Biak Numfor dan itu adalah perintah dari atasan (Kapolda dan Kapolri)”.
Berbeda dengan Kabupaten Mimika, judi TOGEL aman-aman saja. Penjual dan pembeli bebas bertransaksi. Hadiah yang ditawarkan dari judi TOGEL memang menggiur, satu kupon (nomor 2,3,4 angka) minimal RP 5.000 dan jika menang yang didapat untuk 2 angka 350.000, 3 angka 1 juta lebih sedangkan 4 angka Rp 13 juta. (saya nga tau pastinya).
Ironis memang disaat daerah lain memberantas perjudian, di Timika malah tak tersentuh. Atau mungkin pihak kepolisian Timika masih belum mendapat perintah dari atasannya sehingga tidak ada gerakan untuk pemberantasan perjudian.
Eeem………… Bagi ada penggemar TOGEL, kalau mau pasang ke Timika Aja Bueeeebaas………… (eit buka promosi cuma sekedar info
)
Sebentar lagi Natal, setelah 4 taon Natalan sendirian taon ini natal bareng keluarga. Hampir setaon gw kerja, molai besok gw dah cuti. jadi sampe 14 januari gw nga maen2 kompi lage, nga ngenet, ngeblog dng aktipitas laen di kantor.
Gw hanya ucapin
Met Natal 2007 dan Taon Baru 2008
Semoga suka cita Natal dan damai sejahtera selalu menyertai Anda
dan Semoga di taon yang baru, kehidupan Anda jadi lebih baik.
Tuhan Memberkati Kita…
Pulau Karaka salahsatu tempat
bermukimnya masyarakat Suku Kamoro
Beberapa minggu lalu, saya ikut mengambil kapal yang baru dikirim dari surabaya. Kapal milik LPMAK akan digunakan untuk menampung ikan hasil tangkapan nelayan tradisional Suku Kamoro dan kemudian dipasarkan. Kapal putih yang panjangnya sekitar 20 meter itu dipesan dari surabaya, dikirim dengan kapal barang PTFI.
Karena dikirim menggunakan kapal barang PTFI, kami harus mengambil kapal tersebut di Cargodok Portsite. Pukul 12.30, kami berangkat menuju portsite. Perjalanan ke sana kurang lebih1,5 jam. Sesampainya di Cargodok, kami harus melewati beberapa prosedur untuk dapat mengambil kapal.
Foto2nya disini
Mendulang sisa tambang (tailing) PTFI bisa menjadi satu mata pencaharian dan setiap orang bisa melakukannya, hasilnya pun lumayan. Dan mencari emas sepertinya mudah dilakukan, berbeda jika memasang listrik baru.
Untuk memasang listrik baru ke rumah saat ini bukan perkara mudah, alasan Perusahaan Lilin Negara (PLN) stok meterannya kosong dan tidak melayani pemasangan baru. Tapi kekosongan meteran tiba-tiba bisa menjadi ada jika konsumen mau membayar mahal.
Suatu hari ada persidangan kasus perkosaan dan dalam sidang diputuskan bahwa terdakwa bersalah telah melakukan pemerkosaan.
Hakim: “kamu telah terbukti memerkosa dan di hukum 1 bulan penjara”.
Terdakwa: “hahaha….hahahaaaa” terdakwa begitu gembira mendengar putusan hakim.
Hakim: “Tapi, ALAT KEJAHATAN DISITA OLEH NEGARA”
Terdakwa langsung jatuh pingsan.
Selama 3 hari di Biak, selain mengikuti pelatihan tentang Hak-hak anak, saya berkesempatan melancong ke tempat2 yang bersejarah. Salahsatunya Goa Lima Kamar, Goa ini terletak di Biak Timur tepatnya berada di bawah jalan dekat pintu masuk Biak Timur.
Goa ini pertamakali ditemukan oleh Paulus Kafiar (kebetulan teman saat pelatihan) Goa ini berada di belakang rumahnya. Goa Lima Kamar merupakan goa peninggalan tentara jepang. Disebut Goa Lima Kamar karena didalam goa ini ada lima buah ruang, ya mirip sama kamar-kamar. (Foto-fotonya dibawah)
Pelatihan bagi wartawan tentang Hak-hak Anak yang dilakukan oleh Unicef bekerjasama dengan Pemprov Papua dan Papua Barat di Biak, 24-26 Oktober 2007 lalu, menjadi ajang reuni bagi mantan kru Timika Pos (Tipos).
Sekadar untuk diketahui Tipos merupakan koran pertama yang terbit di Timika dan tempat saya memcari nafkah dan ilmu. Selama di Tipos, saya mempelajari banyak hal mulai dari dokumentasi foto hingga Layout Koran.
Kampung Atuka terletak di pesisir pantai, Kabupaten Mimika. Atuka termasuk Distrik Mimika Tengah dengan luas Kampung sekitar 334 km2/334.000 Ha, Atuka merupakan salahsatu perkampungan tradisional suku kamoro.
Bangunan rumah masih tradisional, rumah panggung itu beratapkan daun kelapa/sagu yang dianyam (lupa namanya apa
) dan berdinding serta berlantai papan. Tak ada Listrik, Air Bersih serta sarana umum lainnya. Listrik hanya dimiliki oleh seorang pengusaha dan menyala saat malam saja.
Di Kampung Atuka, ada sebuah TV yang bisa di tonton oleh seluruh masyarakat sekampung. Setiap malam orang dewasa hingga anak-anak duduk beramai-ramai menikmati acara di TV, kadangkala mereka histeris ketika menonton film action.
Aduh…………penonton berteriak, Saya hanya tersenyum (maklum di Kampung
)
Hari Senin hingga Rabu lalu, saya ke pesisir pantai. Saya dan rombongan pergi ke Kampung Atuka tujuan kami kesana memberikan pelatihan tambal jaring bagi masyarakat Atuka yang mayoritas pekerjaannya sebagai nelayan.
Kampung Atuka, Distrik Mimika Tengah mayoritas penduduknya berasal dari Suku Kamoro. Atuka merupakan kampung asli Suku Kamoro, berada di Pesisir Pantai. Untuk sampai ke Atuka menggunakan jalur laut dan sungai. Kami memilih untuk melewati sungai selain lebih cepat sampai, saat itu air sedang pasang jadi longboat yang kami tumpangi bisa melewatinya. Tapi jika air surut maka harus melalui laut.
Read the rest of this entry »
ATM Bersama memudahkan nasabah dapat bertransaksi tidak hanya di terminal ATM milik bank tersebut melainkan dapat juga dilakukan di terminal ATM milik seluruh anggota jaringan ATM Bersama. Lebih enaknya manfaat ATM Bersama yaitu memudahkan nasabah bertransaksi dimana saja, kalau kita mempunyai ATM Niaga kan tidak harus bertransaksi di mesin ATM Niaga, di ATM mana saja bisa bertransaksi yang penting sudah tergabung dalam ATM Bersama.
Di kota-kota besar orang sudah memanfaatkan ATM bersama. Tapi kalau di Timika masih jarang yang memanfaatkannya atau karena mereka tidak mengetahuinya. Saya mempunyai pengalaman saat menggunakan ATM Bersama.
Yeaaah akhirnya bisa ngeblog lagi….. setelah dua minggu lebih off ngeblog, saking buanyaknya pekerjaan jadi mana sempat ngeblog
Sabtu kemaren, saya dan teman-teman mengunjungi sungai yang kesohor se Timika. Sungai Mayon begitulah orang menyebutnya. Ya sungai itu dijadikan tempat rekreasi oleh warga Timika, sungai tersebut berada disekitar Markas Yonif 754 makanya disebut sungai Mayon. Read the rest of this entry »
Masyarakat Papua tidak hanya memiliki keunikan tersendiri di bidang sosial dan budaya, tetapi juga masalah hukum. Sebanyak 310 suku di Papua masing-masing suku memiliki hukum sendiri yang bertahan hingga kini. Hukum adat lebih mendominasi dalam kehidupan sehari-hari karena dinilai lebih menguntungkan pihak korban jika dibandingkan dengan hukum positif.
Di Kabupaten Mimika pun hukum adat masih mendominasi daripada hukum positif. Misalnya jika Anda menabrak orang asli meskipun posisi Anda benar menurut hukum positif, mereka tetap tidak akan terima dan Anda diminta untuk membayar denda. Denda yang diminta dalam jumlah yang besar bisa mencapai Ratusan hingga Miliaran Rupiah baik berupa babi maupun uang. Read the rest of this entry »
Kota Tembagapura berada di wilayah Kabupaten Mimika terletak pada ketinggian kira-kira 3000-an meter diatas permukaan laut. Perjalanan dari kota Timika ke kota Tembagapura (Mile 6
ditempuh ± 2 jam jika melalui jalan darat dan hanya ± 15 menit jika menggunakan helicopter.
Kota ini berada di wilayah operasi PT Freeport, jadi jika ingin berkunjung kesana harus memiliki ijin dari manajemen PTFI. Setelah mendapat ijin, kita akan diberi ID Visitor. Disepanjang perjalanan kita akan melewati beberapa pos pemeriksaan, pertama di mile 34, pemeriksaan kedua di mile 50, dan di Mile 66. Setiap sampai di pos pemeriksaan kita diminta menunjukkan ID kecuali di mile 34. Read the rest of this entry »








Yang mengomen