You are currently browsing the category archive for the 'Curhatan' category.
Seperti mimpi di siang bolong, saya tidak menyangka hari ini bisa bertandang ke rumah sekaligus kantor Penjabat Bupati Mimika, Allo Rafra. Memang bukan kali ini saya bertemu bupati. Dalam berbagai acara saat dihadiri oleh bupati, saya ada untuk mengabadikannya.
Tapi kali ini benar-benar spesial, saya bisa ke ruang kerja bupati dan mengambil foto secara langsung satu lawan satu. Keperluan saya dan teman-teman dari KPAD Mimika untuk mengambil gambar bupati dan akan dijadikan bahan pembuatan poster tentang HIV/AIDS.
Kami hanya diberi waktu lima menit, karena bupati sudah sangat lelah dengan segudang pekerjaan dan permasalahan yang harus di selesaikan. Tapi ternyata bukan hanya lima menit kami bercengkrama akan tetapi sekitar dua jam.
Sambutan pertama yang keluar dari mulut bupati, “jadi bupati itu tidak enak, kalian kira enak kah”. Kami hanya tertawa kecil. Setelah mengutarakan maksud kedatangan kami, bupati menyambut baik. Yang ada dalam pikiran saya saat itu, selesai menjelaskan maksud dan tujuan kami kemudian dilanjutkan dengan pemotretan.
Tapi yang terjadi bupati bercerita ngalor ngidul. Ia menceritakan permasalahan yang dihadapi di Kabupaten Mimika serta pandangan-pandangannya kedepan untuk Mimika.
Kurang lebih setahun Ia memimpin kabupaten ini dan telah menghasilkan karya yang cukup luar biasa, pembangunan jalan dan proyek-proyek fisik lainnya sudah berjalan dan terbukti. Banyak sekali cerita yang dapat saya tuliskan disini tapi saya pun sudah lelah dan harus segera pulang.
Tunggu postingan dilain kesempatan ![]()
Beberapa bulan lalu, saya pernah menulis Mendulang, Pekerjaan Penuh Risiko. Senin (5/5) terjadi longsor di Kampung Sugima, Distrik tembagapura. 19 orang tewas dan diperkirakan masih ada tiga orang yang belum ditemukan. Korban longsor tersebut adalah para pendulang.
Pendulang sisa-sisa tambang PT Freeport memang banyak ditemui di tepian sungai tempat mengalirnya tailing. Kondisi camp pendulang pun seadanya, mereka mendulang seperti tanpa memperhitungkan risiko jika terjadi hujan terus menerus. 19 korban tersebut adalah penghuni Camp 55 di mile 72.
Letak camp-camp pendulang berada disisi sungai dan tebing gunung yang menjulang. Jadi jika longsor, camp akan tertimbun longsor kemudian akan jatuh ke sungai. Arus sungai pun derasnya tergantung curah hujan, jangankan manusia sebuah batu yang sangat besar saja bisa hanyut diterjang derasnyya arus sungai yang bercampur lumpur sisa tambang.
Apapun pekerjaan memang penuh risiko tapi mendulang di medan yang mengerikan… sungguh pekerjaan yang membutuhkan keberanian luar biasa.
Sejak kamis lalu sudah mulai libur tapi pada rabu sore ada sebuah undangan utuk menghadiri penanaman dusun sagu di nayaro dan saya yang ditunjuk untuk mengikuti acara tersebut–nga ada orang lg seh
. Meskipun libur sebagai bawahan yang baik dan sudah menjadi bagian dari pekerjaan, saya tetap menghadiri acara itu. lagian diitung lembur kok
Tidak seperti biasanya, saya selalu membawa jaket. Tapi kali ini saya meninggalkan jaket kulit di kantor dan pergi dengan asumsi di Nayaro pasti panas akan tetapi justru sebaliknya, hujan lebat mengguyur Nayaro. Turun dari bis, saya tidak dapat mengambil gambar, sayang kameranya ntar rusak kena air
Kemudian saya berlari mendahului rombongan Bupati, Danlanal, Danlanud, Uskup dan pejabat lainnya yang berjalan dengan dilindungi payung, sedangkan saya berlari tanpa payung, sekujur tubuh basah. Sampai di Tenda, saya bisa menggambil gambar meskipun kamera sedikit kena air. Untungnya hujan tak lama. Saat penanaman, hujan berhenti total.
Tapi bagaimanapun juga akibat air hujan yang mengguyur saya, kepala jadi pening dan terasa berat.
Uuh.. mudah2an tidak sakit nanti.
Anak lelaki kecil itu duduk bersila di lantai. Dihadapannya ada semangku mie rebus. Tangannya yang kecil meraih sebuah sendok, lalu mengambil mie dari dalam mangkuk dan ia memindahkan dua sendok mie ke piring kecil agar lebih cepat dingin. Setelah dingin ia menyantap mie tersebut. Cara itu sering dilakukannya jika hendak menyantap mie, baik yang rebus maupun mie goreng.
Sejak ia dilahirkan ke dunia, ia menjadikan mie sebagai makanan yang paling digemari. Saat ini usianya enam tahun dan selama itu ia tak pernah memakan nasi walaupun hanya satu butir saja. Mengonsumsi mie instant sudah menjadi kebiasaan. Ketika ia masih kecil, semua jenis makanan bayi hanya sampai di mulutnya saja. Selebihnya dimuntahkan.
Jangankan untuk makan nasi, mencium aroma uap nasi panas saja ia langsung muntah. Seperti orang mabuk laut atau mabuk karena minuman keras. Suatu hari ketika Ibu dan Kakak sedang asyik menonton tivi, tiba-tiba anak kecil itu menangis sejadi-jadinya padahal tak ada yang menganggunya. Ia sendirian didapur. Mendengar tangisan yang sangat keras, Ibu dan Kakak serentak menuju dapur, mereka mengira anak kecil itu kena pisau.
Sesampainya di dapur, anak kecil itu mengangkat kakinya dan berkata, “Ada nasiiiii……” sambil menjerit-jerit dan menangis sekencang-kencangnya. Ibu lalu mengambil sebutir nasi yang terselip diantara jempol kaki dan telunjuk kakinya. Seketika itu Ia langsung diam dan melanjutkan kegiatannya.
Jika kami makan, maka kami yang harus mengalah karena ia akan berteriak-teriak dan lebih parah lagi, ia akan memuntahkan semua isi perutnya saat itu juga. Tapi berbeda ceritanya jika kami bersama-sama menyantap sate. Ia tak mencium bau nasi dan seakan tak peduli dengan nasi disampingnya. Ia melahap sate dengan nikmatnya.
Ada cerita lagi, suatu hari ada seorang penjual sate lewat di depan rumah kami. Anak kecil itu menangis dan meminta Ibu untuk membelikan sate. Ibu mau membelikan sate asal makan dengan nasi. Anak kecil itu menyanggupinya. Dihadapannya sate dan nasi tersedia, lalu ia mengambil satu tusuk sate kemudian satu sendok nasi. Ajaib, ia tidak muntah. Ia mengunyah-nguyah dan lebih ajaib lagi daging sate bisa di telan tapi nasi tertinggal dalam mulutnya lalu dikeluarkan dan dibuang.
Enam tahun sudah ia tak pernah makan nasi, untuk makanan sehari-hari, ia mengonsumsi mie instan, pentolan, susu ultra dan makanan ringan lainnya. Bujukan maupun rayuan agar ia makan nasi semuanya sia-sia bahkan saya berjanji akan membelikan sepeda jika bisa makan nasi tapi tetap saja tak berhasil, ia memilih tak memiliki sepeda daripada makan nasi.
Adakah cara agar adik kecil saya bisa makan nasi seperti saya??
Ada satu hal yang menjadi kebiasaan atau mungkin sudah tradisi bagi Suku Kamoro. Selain Senyum dan Ucapan selamat saat bertemu seseorang, panggilan Bapa, Mama atau Anak sering terdengar.
Ketika Saya berkunjung ke Kaokanao, salah satu pemukiman di daerah pesisir yang merupakan pemukiman suku Kamoro. Lelaki yang sudah tua dipanggil Bapa, Perempuan tua disapa Mama dan anak-anak muda maupun anak-anak dipanggil Anak. Tapi kalau anak kecil memanggil orang muda dengan sebutan Om.
Saya mendapat kehormatan dipanggil Anak :D . tentunya yang memanggil
seperti itu yah bapa-bapa atau mama-mama, kalau usianya dibawah saya, ya memanggilnya OM :D . Memang agak lain terdengar ketika saya dipanggil Anak, biasanya Emak atau
Bapak memanggil saya Le’ bahkan dengan nama langsung.
Tapi apapun panggilan semua itu tetap sopan tidak seperti di pasar atau di Timika Kota, memanggil orang yang tak dikenalnya dengan panggilan Oiiii… atau Sssst…. Eh eh, Benar-benar tidak sopan dan tak tahu aturan. Minimal kalau tak kenal kan bisa dengan sebutan Om atau Pak bahkan Mas
Sejak pertama kali bertemu, entah sudah beberapa bulan yang lalu ternyata baru ku sadari bahwa aku jatuh cinta.
Ya, aku saat ini sedang jatuh cinta. Engkau begitu indah dan menggagumkan saat dipandang, membuat pikiran ini melayang dan ingin sekali aku menyentuhmu.
Ingin sekali aku menghabiskan waktu bersamamu saat senja mulai tampak hingga menghilang di kegelapan malam. Oh Sunset di perairan sungai wania engkau begitu indah dan menawan. Tak bosan diri ini untuk terus memotretmu.
Jumat lalu saya, beberapa teman beserta 2 orang dari TVRI Papua dan dua orang dari Persipura ke Kaokanao. Tujuan kami utuk melakukan diskusi sekaligus survey untuk membuat Sekolah Sepak Bola. Dalam rombongan itu, ada dua orang perempuan. Berangkat pukul 5 sore dari perairan Cenderawasih sampai di Kaokanao pukul 9 malam. Tidak seperti beberapa bulan yang lalu saat ke Kaokanao saya tidur di geladak pelabuhan Atapo tapi kali ini persiapan cukup baik sehingga kami dapat beristirahat di asrama milik pastoran Kaokanao.
Malam kami beristirahat, tapi sayang saya dan beberapa orang teman tidak dapat menikmati tidur. Selain nyamuk yang ganas, suara ngorok seorang teman membuat kami tak dapat tidur. Malam hingga pagi hari gerimis. Saat kami datang ke Kakokanao, jalan maupun lokasi seluruh Kaokanao sangat becek karena sedang musim air pasang sehingga air naik merendam seluruh Kaokanao.
Sabtu siang kami mengadakan pertemuan dengan Camat setempat dan tokoh masyarakat Kaokanao. Setelah pertemuan kami berkemas dan akan kembali ke Timika. Pukul tujuh malam kami meninggalkan Kaokanao. Keperian kami diiringi tangisan dari beberapa orang yang mengantar kami sampai Pelabuhan Atapo.
Kami mengarungi sungai di kegelapan malam. ditengah perjalanan salah seorang Ibu dituntut panggilan alam (halah pengen pipis). Kamipun mencari daratan yang bisa tempat berlabuh boat dan juga bisa kami singgahi untuk mengantar si Ibu pipis.
Ah ternyata ribet jadi perempuan itu. Pipis aja musti nyari tempat yang nyaman, berbeda dengan laki-laki kalo ingin pipis tak perlu mencari daratan. Berdiri saja dibelakan dan bisa pipis dengan risiko aliran pipisnya berlengak-lengok mengikuti hembusan angin
. Ini pengalaman pribadi daripada menahan pipis dan ginjal jebol lebih baik hambur aja dibelakang boat
.
dahliana abdullah: Loe digaji buat kerja
dahliana abdullah: Ga usah ngeluh
meno timika: emang…
meno timika: cuma kan nga sesuai ama perjanjian
>>> diedit<<<
dahliana abdullah: Mending
>>> diedit <<<
dahliana abdullah: Bagus lah
dahliana abdullah: Cpt2 nikah sudah
meno timika: nikah ?? mang penting
dahliana abdullah: Penting lah
meno timika: knapa?
dahliana abdullah: Gmana seh
dahliana abdullah: Masa seh ga penting
meno timika: ya pentingnya itu apa?
dahliana abdullah: Ya ga tau
meno timika: :))
meno timika: nah sekarang tante dah nikah.. ada manfaat nga
dahliana abdullah: Ga perlu dijawab deh spt nya
meno timika: :))
meno timika: skarang tujuan dr nikah itu apa??
dahliana abdullah: Ada lah
dahliana abdullah: Buat gw seh
dahliana abdullah: BRB
meno timika: :))
meno timika: payah, gw kan mo konsultasi..
meno timika: sbgi yg udah nikah
meno timika: jawaaaaaaaaaaaaab
meno timika: Not at My Desk…
meno timika: cuma ALASAN…
Setelah menunggu beberapa saat akhirnya dijawab begini
dahliana abdullah: Sorry, sibuk neh
dahliana abdullah: Ntar ya
Masalah nikah bukan kali ini saja orang bertanya kepada saya. Sejak kembali ke Timika lagi setelah 4 tahun di Balikpapan, teman-teman maupun tetangga yang bertemu dengan saya selalu menanyakan istri atau udah nikah. Dengan senyum dan ketawa-ketiwi saya menjawab, kontraknya habis. Kalo ngerantau di Kalimantan pake sistim kawin kontrak aja, kalo nga gitu nga bisa pulang.
Ada yang percaya dan ada juga yang menganggap saya ‘gila’. Jawaban itu sih terbukti efektif dan orang tak bertanya lagi tentang nikah
. Lagian apa nga ada pertanyaan lain selain nikah?? kalaupun saya harus nikah ama siapa?? wong anak kucing aja geli ama saya apalagi perempuan :))
nb: tanda titik titik naskah diedit ![]()
Sebenarnya pekerjaan saya saat awal masuk sesuai job desc hanya layout tabloid dan desain media promosi lainnya selain itu ada pekerjaan lain yaitu membantu dokumentasi foto apapun kegiatan kantor. Tapi apa yang terjadi sodara-sodara setahun lebih bekerja, pekerjaan yang sifatnya hanya membantu jadi pekerjaan wajib.
Tapi semua tetap saya kerjakan, kalau saya tidak bergerak pekerjaan saya juga kena dampaknya. Dari semua apa yang saya lakukan, saya mendapatkan pelajaran yang baru yaitu mengerti dunia foto dan menulis berita, yah meskipun sering menyusahkan kawan-kawan di Jakarta dan Balikpapan sana. Nanya mulu via YM
Karya yang saya hasilkan cukup lumayan untuk di Timika, malah ada yang memuji hasil kerja saya. Tapi pujian itu sama sekali tidak saya butuhkan. Yang dibutuhkan ya GAJI
memangnya pujian bisa buat beli beras.
Salah satu sifat manusia ialah tidak pernah puas dengan apa yang didapat. Punya istri satu nga puas jadi beristri dua malah ada yang lebih. Punya pacar satu, masih nyari serepnya (emang ban pake serep).
Pokoknya saya hanya butuh GAJI bukan Pujian.
Untung di Indonesia ada satu bahasa pemersatu yaitu Bahasa Indonesia, seandainya tidak ada, saya orang yang paling tersiksa dalam bekerja :D . Di Kabupaten Mimika ada 7 suku asli yaitu, Amungme, Kamoro, Dani, Damal, Mee, Moni dan Nduga. Setahu saya pasti satu suku satu bahasa.
Harus benar-benar sensitif telinga saya kalu mendengar cara mereka mengucapkan kata dalam bahasa indonesia kecuali Suku Kamoro mereka bahasa indonesianya sudah cukup fasih. Berbeda dengan keenam suku yang lain, khususnya masyarakat yang tidak mengenyam pendidikan dengan cukup baik.
Kata-kata bahasa Indonesia diucapkan dengan lidah mengikuti seperti mengucapkan bahasa daerahnya. Seperti KSM, diucapkan dengan KSEM. Dan jadi Ndan, Susu jadi Cucu, bisik-bisik jadi bitik-bitik. Pokoknya jangan coba-coba mewawancari penduduk asli yang tidak begitu fasih dengan bahasa Indonesia tanpa membawa seorang guide, bukan berita yang didapat tapi kepala pusing mereka-reka apa kata yang diungkapkan tadi.
Sayapun mengalaminya saat ikut monitoring maupun sosialisasi program. Saya tidak mendengarkan mereka percuma tidak mengerti, dengarkan penerjemahnya saja. Kalau hanya sekali atau dua kali bisa saya catat tapi kalau sampai sehari terus diskusi dengan bahasa daerah… wuiih…. nunggu aja acara selesai dan minta point-pointnya dari guide
Tidak bermaksud meremehkan mereka tapi begitulah faktanya. Papua memang hebat, ada orang-orang jenius sampai bisa ke NASA tapi ada juga orang-orang yang berkuliah tapi sama sekali tak bisa membaca.
Jadi setiap ada kegiatan apapun yang melibatkan per suku, memang lebih efektif menggunakan bahasa daerah.
Novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata sudah lama saya dengar saat saya masih di Balikpapan dan sampai masuk acara kick andy di Metro TV. Desas desus yang saya dengar tak memancing minat saya untuk membaca apalagi membeli
saya lebih cenderung membeli dan membaca buku-buku yang berbau komputer dan desain. Saat itu untuk novel bukan buku yang saya gemari.
Begitu kembali ke Timika, saya membaca semua jenis buku dan tiap bulan saya menyiapkan budget khusus untuk membeli buku, semua itu saya lakukan untuk mengisi waktu daripada nonton sinetron2 yang menyebalkan itu. Kemaren, saya berburu buku dan yang saya buru adalah Novel Laskar Pelangi. Beberapa toko buku yang saya datangi hanya menyediakan dua yaitu Sang Pemimpi dan Endensor sementara Laskar Pelangi tidak saya temukan (habis kale, kan dah lama
).
Selain harga yang mahal, tak banyak koleksi buku di Timika. Saya pun membeli dua buku tersebut. Ketika pulang ke rumah listrik dari PLN yang Brengsek itu padam. Dengan ditemani dua buah lilin saya membaca novel itu untuk mengusir rasa penasaran. Memang saat itu saya tidak menyelesaikan membacanya, saya hanya membuka mozaik demi mozaik.
Alangkah terkejutnya saya ketika melihat Mozaik 15, Ekstrapolasi Kurva yang Menanjak yang berakhir di halaman 213, nomor halamannya langsung berubah ke 247. Ada selisih 34 Halaman dan saya tak dapat membaca 1,5 bab. Hiks….
Kok bisa ya selisih sampai 34 halaman. seandenya hanya 2 ato 4 halaman saya masih memaklumi. Yang terjadi 34 halaman, kesalahan yang sangat besar. Novel yang bagus itu ketika saya membaca terkadang mengingatkan masa kecil saya saat berjuang dengan sekuat tenaga mulai dari pikul kayu dari hutan hingga jualan nasi kuning disekolah hanya untuk sekolah harus ternoda dengan kesalahan saat penjilidan.
Saya pun akhirnya mengirimkan email ke Penerbit dan memberikan komentar pada blog resmi Andrea Hirata.
Mudah-mudahan kejadian ini tidak terulang kembali dan Endesor yang saya beli lengkap tanpa cacat.
Dalam dunia mode, beraneka macam model rambut mulai dari mohak, shagy hingga rebounding. Di Timika ada sebuah model rambut yang sangat tradisional. Rambut ini bergaya tanduk, jadi rambut di ikat hingga seperti tanduk. Dalam satu kepala bisa empat atau lima bahkan lebih.
Kalau saya lebih suka menyebut dengan gaya antena
Seperti foto dibawah ini:
Model rambut seperti ini biasa dilakukan oleh penduduk asli di Mimika, bagaimana? Anda berminat
Foto diambil saat saya mengikuti kegiatan sosialisasi program di lembaga ini
Kemajuan Teknologi menawarkan sesuatu yang serba mudah. Mau beli sebuah produk nga perlu ke tempat jualannya via online juga bisa. pengen denger suara orang tinggal telpon ata via YM juga bisa. Pokoknya gampang banget (bagi yg mengenal tehnologi)
Tapi di jaman yang serba digital gini, semua serba mahal. Mulai dari SEMBAKO ampe biaya pendidikan, Biaya Berobat dan masih banyak lagi biaya-biaya yang muahal. Bagi kalangan berduit mungkin semua tak masalah tapi bagaimana dengan kaum marjinal??.
Tadi pagi saya berobat ke klinik, sebenarnya saya dapat fasilitas berobat gratis dari kantor cuma RS nya jauh dan Antrinya paling cepet 1 jam, saya memutuskan ke klinik saja. Konsekuensi dari pilihan saya ya harus bayar dan tentunya mahal
Karena saya masih punya penghasilan, biaya obat masih dapat di tebus termasuk biaya suntik. Tapi bagaimana dengan saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang lain yang masuk dalam kelompok GAKIN???
Pagi tadi sebelum saya berangkat ke kantor, saya menonton berita di tipi, ada seorang bayi yang menderita gizi buruk yang akhirnya meninggal dunia. Keluarganya termasuk Gakin, mereka sempat ditolak oleh RS karena mereka GAKIN.
Padahal GAKIN kan dibiayai dan dijamin oleh pemerintah mengapa tak diterima di RS. Sekarang ini RS hanya mementingkan uang daripada keselamatan pasien. Setelah ada kasus kemudian pihak RS mengeluarkan bantahan.
Dunia semakin tua dan manusia hanya mementingkan diri sendiri dan materi lebih utama.
Aaah… tau ah, bahas apa ini…. Yang jelas saat ini bekas suntikkan dari suster yang setengah cantik itu terasa masih kram…
Sinetron-sinetron yang menyebalkan itu ternyata membawa berkah bagi saya. Berkah yang saya maksud bukan dari tontonan yang disajikan tapi dengan banyaknya pengemar sinetron di keluarga saya, saya jadi gemar membaca. Padahal dulu saya jarang sekali membaca, selain pulang kerja dini hari juga lebih banyak waktu saya gunakan untuk jalan-jalan.
Tapi begitu ke Timika, saya jadi malas jalan-jalan, maklum tidak ada t4 yang asik buat nongkrong. Yah daripada hanya tidur-tiduran ato nonton sinetron-sinetron yang menyebalkan itu lebih baik sebelum tidur saya membaca. Katanya seh kalo banyak membaca jadi banyak tahu dan banyak tahu jadi wawasan dan pengetahuan tambah luas.
Sayangnya mencari buku di Timika tidak banyak pilihan, jumlah dan jenis buku
terbatas selain itu harganya muaaaahal…… kemarin saya membeli buku
The Secret harganya Rp 109. 000 tapi mau bagaimana lagi nga ada pilihan sih.
Kalau mau pesan online lebih mahal biaya kirimnya daripada harga bukunya.
Seperti biasa pukul 6 pagi (lewat2 dikit) saya sudah bangun, setelah melakukan
semua persiapan saya siap pergi ke kantor. Pukul 07. 35 saya meluncur ke kantor, beberapa meter sebelum sampai di kantor, saya mampir untuk membeli nasi
kuning karena di rumah belum sarapan. Penjual sayur langganan itu tidak berjualan sehinnga tidak ada yang bisa dimasak kecuali nasi
Sesampainya di kantor saya menyantap nasi kuning itu. Setelah satu jam
dikantor saya baru sadar bahwa celana yang saya pakai ternyata robek.
Seandainya robek dibagian lutut atau paha tidak masalah, ini robeknya tepat di paha bagian dalam jadi sewaktu duduk angin sepoi-sepoi masuk kedaerah rawan
Saya dan seorang teman tertawa terbahak-bahak, ia menyaran agar saya tidak
usah ganti celana, katanya nga kelihatan jadi nga apa-apa. Tapi saya tak mengindahkan idenya, motor kreditan itu saya pacu sekencang-kencangnya menuju ke rumah hanya untuk menganti celana yang robek. Ibu saya pun sempat heran kok baru
jam 9 pagi sudah pulang.
Saya menceritakan kejadian yang saya alami dan Ia tertawa…..
setelah ganti saya pun menuju kesini
Untuk saja tidak ada Ibu-ibu dan Janda-janda di kantor yang lihat,
seandainya ada?? nga kebayang deh
Kejadian ini saya alami 4 hari yang lalu.
Bosan,ya aku telah bosan……
Hari-hari terasa monoton, jam 7.30 berangkat kerja, jam 5 sore pulang, sampai dirumah paling-paling tidur dan kadang2 membaca (itupun kalo ada majalah dan buku pinjaman).
Seharian bekerja di kantor sungguh melelahkan, meskipun pekerjaannya bisa dikatakan mudah tapi suasana kerja terasa tidak nyaman dihatiitu yang bikin bosan!!.
Ada orang yang bekerja santai…… dan yang serius…… ada rajin kerja dan ada juga yang malas… tapi semua mendapat perlakuan yang sama. mau rajin kek, mau malas kek dapetnya segitu juga malah ada yg lebih besar.
Jika tidak lembur, 17.30 sudah sampai di rumah. Sesampainya di rumah, aktifitas ya begitu-begitu saja, jarang mandi, baca buku atau tidur2an sambil menunggu kantuk datang.
Mau nonton TV, kalah suara, banyak pencinta sinetron… mulai dari Intan, Cahaya, Mentari, Mutiara, hingga Suci….. Sinetron2 itu bagi ku sungguh menyebalkan, selingkuh, rebutan harga, nangis2…. pokoknya menyebalkan.
Mau Mall to Mall nga ada Mall, mau nongkrong nga ada Kafe yang ada Bar2 ato Panti Pijat….. Kalo di Bar banyak asap rokok dan orang mabuk yag rese, sementara panti pijat identik dengan esek2…
uaaah bosaaaaaaaaaaaan…………. bagaimana caranya ngusir si Tuan Bosan??
Pelatihan bagi wartawan tentang Hak-hak Anak yang dilakukan oleh Unicef bekerjasama dengan Pemprov Papua dan Papua Barat di Biak, 24-26 Oktober 2007 lalu, menjadi ajang reuni bagi mantan kru Timika Pos (Tipos).
Sekadar untuk diketahui Tipos merupakan koran pertama yang terbit di Timika dan tempat saya memcari nafkah dan ilmu. Selama di Tipos, saya mempelajari banyak hal mulai dari dokumentasi foto hingga Layout Koran.
Kampung Atuka terletak di pesisir pantai, Kabupaten Mimika. Atuka termasuk Distrik Mimika Tengah dengan luas Kampung sekitar 334 km2/334.000 Ha, Atuka merupakan salahsatu perkampungan tradisional suku kamoro.
Bangunan rumah masih tradisional, rumah panggung itu beratapkan daun kelapa/sagu yang dianyam (lupa namanya apa
) dan berdinding serta berlantai papan. Tak ada Listrik, Air Bersih serta sarana umum lainnya. Listrik hanya dimiliki oleh seorang pengusaha dan menyala saat malam saja.
Di Kampung Atuka, ada sebuah TV yang bisa di tonton oleh seluruh masyarakat sekampung. Setiap malam orang dewasa hingga anak-anak duduk beramai-ramai menikmati acara di TV, kadangkala mereka histeris ketika menonton film action.
Aduh…………penonton berteriak, Saya hanya tersenyum (maklum di Kampung
)
Hari Senin hingga Rabu lalu, saya ke pesisir pantai. Saya dan rombongan pergi ke Kampung Atuka tujuan kami kesana memberikan pelatihan tambal jaring bagi masyarakat Atuka yang mayoritas pekerjaannya sebagai nelayan.
Kampung Atuka, Distrik Mimika Tengah mayoritas penduduknya berasal dari Suku Kamoro. Atuka merupakan kampung asli Suku Kamoro, berada di Pesisir Pantai. Untuk sampai ke Atuka menggunakan jalur laut dan sungai. Kami memilih untuk melewati sungai selain lebih cepat sampai, saat itu air sedang pasang jadi longboat yang kami tumpangi bisa melewatinya. Tapi jika air surut maka harus melalui laut.
Read the rest of this entry »
Tujuh tahun malang melintang didunia penerbitan koran, baru kali ini membuat berita. berbeda dengan dunia design yang menurut saya lebih mudah dipelajari, menulis berita hue, hue, susahnya. Tetapi karena sudah menjadi bagian dari pekerjaan ya sesulit apapun saya mencoba menjalaninya.
Sasaran pertama untuk konsultasi yaitu OM GOGEL, beliau langsung memberi banyak jawaban. Tapi emang nga ada dasar jurnalistik jadi ya tetep aja bingung. Saya mencoba beberapa kali lead awal tapi tetep aja seperti tidak nyambung, berulang-ulang kali mencoba tetep nga bisa.
Hak adalah sesuatu yang benar, kepunyaan, sungguh-sunguh kewenangan. itu yang sesuai kamus bahasa indonesia milik saya kantor. Hak juga bisa diartikan dengan Peninggi sepatu wanita yang terletak di bagian belakang. katanya wiki sih getu.
Kewajiban adalah sesuatu yang harus dilaksanakan. kata kamus milik saya kantor.
Setelah tau pengertian hak dan kewajiban terus apa yang saya omongin??
Yang jelas saya hanya mau bercerita tentang situasi yang saya alami dibeberapa tempat yang pernah saya singgahi gunakan untuk mencari sesuap nasi. Halah kerja maksudnya. Di kantor pertama, saya mendapatkan hak yang sesuai dengan kewajiban saya. Di Kantor kedua lebih banyak memberikan kewajiban daripada memperoleh hak sebagai karyawan.
Read the rest of this entry »
ATM Bersama memudahkan nasabah dapat bertransaksi tidak hanya di terminal ATM milik bank tersebut melainkan dapat juga dilakukan di terminal ATM milik seluruh anggota jaringan ATM Bersama. Lebih enaknya manfaat ATM Bersama yaitu memudahkan nasabah bertransaksi dimana saja, kalau kita mempunyai ATM Niaga kan tidak harus bertransaksi di mesin ATM Niaga, di ATM mana saja bisa bertransaksi yang penting sudah tergabung dalam ATM Bersama.
Di kota-kota besar orang sudah memanfaatkan ATM bersama. Tapi kalau di Timika masih jarang yang memanfaatkannya atau karena mereka tidak mengetahuinya. Saya mempunyai pengalaman saat menggunakan ATM Bersama.
“Proyek apa sih itu?”, begitulah komentarku ketika melihat pekerja sedang menambal jalan raya yang berlubang di depan pasar Timika.
“Biasalah Pak, tiap tahun juga begitu proyeknya”, kata temanku.
Kami pun ngobrol ngalor ngidul tentang pembangunan di Mimika yang intinya menghujat Pemerintah dengan proyek-proyeknya.
Pendapatan Asli Daerah (PAD) Mimika berada diurutan ke-4 setelah Kutai Kartanegara, Riau dan Jakarta yang berarti Kabupaten Mimika kaya raya dan sebenarnya dana bukan jadi kendala dalam membangun daerah ini. Alokasi dana dari APBD untuk tahun 2007 sebesar Rp 934 Miliar, sebanyak Rp 600 Miliar untuk belanja publik yang tercakup dalam 779 kegiatan.
Yeaaah akhirnya bisa ngeblog lagi….. setelah dua minggu lebih off ngeblog, saking buanyaknya pekerjaan jadi mana sempat ngeblog
Sabtu kemaren, saya dan teman-teman mengunjungi sungai yang kesohor se Timika. Sungai Mayon begitulah orang menyebutnya. Ya sungai itu dijadikan tempat rekreasi oleh warga Timika, sungai tersebut berada disekitar Markas Yonif 754 makanya disebut sungai Mayon. Read the rest of this entry »
Bukannya gw sombong cuma seringkali merasa kebingungan jika ada yang bertanya kepadaku asalnya dari mana?? Yang jelas gw ciptaan Tuhan yang dititipkan melalui rahim Ibuku. Mau gw jawab dari Timika-Papua, orang pasti tak percaya soalnya gw nga hitam dan rambutnya nga kering cuma ikal aja
Jika gw jawab dari Malang pasti nanya lagi Malangnya mana?? Aah…..bingung, gw dimalang cuma numpang lahir dan besar di perantauan.
Kmaren iseng-iseng nyari di Om gugel nama kampung kelahiranku dan hasilnya nga ada….terlalu ndeso kampung kelahiranku sampe-sampe om gugel yang terpercaya itu nga nemu!
Buat yang tau nama desa Tawangsari, Mbunder kasih info dunk itu desa masih di kab malang ato di planet lain. Hiks…..sedih di web kab Malang juga nga ada hanya kecamatannya aja.
Toloooong…..dunk biar gw nga bingung kalo ditanya asalku!!!
Wuaaah…..jangan tanya asalku!!!!
Binggung mo nulis apa??? lagi musim ujan disini….mana flu berat, pulang pergi kehujanan…bisa2 kena malaria neh….
O iya,….ada kejadian seorang oknum TNI dihajar oleh orang tak dikenal. Sampai pagi tuh orang tergeletak di pinggir jalan. Lom jelas masalahnya apa, sampai skarang masih dalam penyelidikan.
Nah kebanyakan sih Oknum TNI yang menghajar orang sipil, malah sampai nembak seperti kasus TNI nembak warga gara2 rebutan tanah.
Bingung mo koment apa, flunya nga tahan……..
GW paling males urusan dengan polisi, semua serba duit…..contohnya ketika ngurus SIM, dipapan petunjuk pengurusan SIM jelas-jelas tertulis harganya, untuk SIM C baru Rp75.000 sedangkan perpanjangan Rp 60.000.
Tapi kenyataanya nga seperti itu, kita musti bayar uang kesehatan Rp 20.000 trus uang map Rp 3.000 dan uang sidik jari RP 20.000. Gw pikir tinggal bayar dikit aja dah jadi SIMnya, setelah ambil sidik jari musti bayar Uang Administrasi Rp 160.000. haaah…….banyak banget padahal gw hanya perpanjangan aja. Read the rest of this entry »




Yang mengomen