RSMM Berlakukan Tarif Baru, Masyarakat Tujuh Suku Dikenakan 10 Persen

BILA dilihat sejak tahun 2000 hingga saat ini, jumlah kunjungan pasien ke Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) terus melonjak. Pada tahun 2000, jumlah kunjungan pasien rawat jalan di RSMM sebesar 56.594 pasien dan pada 2006 sebesar 99.580. Ini berarti ada peningkatan jumlah pasien rawat jalan sebesar hampir dua kali lipat atau sekitar 76 persen selama kurun waktu tujuh tahun.

Menurut Konsultan Biro Kesehatan Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK), dr Rilia Maristella, bila dilihat dari kunjungan rawat inap, bahkan terjadi peningkatan jumlah pasien rawat inap lebih dari dua kali lipat. Pada tahun 2000 jumlah kunjungan rawat inap sebesar 4.753 pasien dan pada tahun 2006 sebesar 10.408 pasien.

Peningkatan jumlah pasien yang harus dilayani ini memberi dampak bagi RSMM. Baik pada pelayanan yang diberikan di rumah sakit tersebut maupun pada anggaran yang harus disediakan oleh LPMAK untuk operasional rumah sakit ini.

Peningkatan jumlah pasien ini juga menunjukkan bahwa ’sehat’ belum menjadi suatu prioritas bagi masyarakat. Hal ini khususnya bagi masyarakat tujuh suku, sebab 75 persen dari jumlah pasien rawat jalan dan rawat inap di RSMM adalah masyarakat asal tujuh suku.

Dilihat dari kasus (penyakit) yang ditangani pada 2006, malaria merupakan penyakit yang paling banyak ditangani di bagian gawat darurat atau sekitar 19 persen dari total kunjungan kasus dan rawat inap sekitar 25 persen dari total kunjungan kasus di RSMM serta menduduki peringkat kedua penyakit yang paling banyak ditangani di bagian rawat jalan 14 persen dari total kunjungan kasus. Untuk rawat jalan, infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) masih menempati peringkat teratas yang ditangani yaitu 18 persen. Kendati demikian, baik malaria maupun ISPA merupakan penyakit menular yang bisa dicegah.

Merujuk pada data dan fakta tersebut maka tak bisa dipungkiri bahwa saat ini beban kerja yang dipikul oleh RSMM sangat besar dan bila tidak disikapi dengan baik akan menurunkan pelayanan kesehatan di rumah sakit ini. Secara ekonomi, beban ’kesakitan’ di RSMM juga akan memberi dampak negatif bagi masyarakat terutama masyarakat tujuh suku sebab untuk mendukung operasional dari rumah sakit ini, dana yang dibutuhkan semakin besar. Tentunya tak ada jalan lain kecuali berharap dana dari LPMAK. Padahal LPMAK juga masih berkonstrasi pada dua program besar yaitu pendidikan dan ekonomi kerakyatan.

Untuk mengatasi masalah pembiayaan yang cukup besar ini, Badan Pengurus (BP) LPMAK telah memutuskan untuk menaikkan tarif berobat di RSMM bagi pasien umum sebesar 50 persen dari tarif sebelumnya. Kenaikkan ini akan diberlakukan terhitung pada Minggu (1/7) 2007. Kenaikkan tarif ini merupakan kenaikan tarif yang pertama kali dilakukan semenjak RSMM beroperasi. BP-LPMAK juga memutuskan bahwa masyarakat tujuh suku ikut berperan dalam pembayaran sebesar 10 persen dari biaya tarif baru yang seharusnya ditagihkan.

Sisanya 90 persen dari tagihan tersebut akan dibayarkan oleh LPMAK. Keterlibatan masyarakat dalam pembayaran ini dimaksudkan agar masyarakat dapat ikut mengambil bagian dalam program kesehatan. Dengan ikut membayar, masyarakat diharapkan dapat memahami tentang pentingnya menjaga kesehatan dan ikut mendukung program kesehatan masyarakat yang bertujuan untuk pencegahan penyakit.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s