Konsep Pendidikan Nasional Ibarat Pakaian Konveksi

KETIKA orang berbicara masalah pendidikan maka yang terpikir adalah masalah teori pendidikan itu sendiri, metodenya, administrasinya atau problem-problem didalamnya. Biasanya, berbagai hal tersebut menjadi porsi para ahli dibidangnya untuk membahas lebih jauh tentang masalah pendidikan itu sendiri.

Namun demikian, telah dipahami oleh para pendidik bahwa misi pendidikan adalah mewariskan ilmu dari generasi ke generasi selanjutnya. Ilmu yang dimaksud antara lain pengetahuan, tradisi dan nilai-nilai budaya (keberadaban). Secara umum penularan ilmu tersebut telah diemban oleh orang-orang yang terbeban (concern) terhadap generasi selanjutnya. Mereka diwakili oleh orang yang punya visi kedepan, yaitu menjadikan generasi yang lebih baik dan beradab.

Apabila berbicara pendidikan berskala nasional maka secara umum konsep pendidikan nasional di Indonesia tak lagi memperlihatkan keberpihakan terhadap dunia pendidikan di berbagai daerah. Salah satu contoh yaitu kontraversial mengenai Ujian Nasional yang memperlihatkan betapa sentralistiknya pendidikan saat ini. Pusat terkesan memaksa seleranya terhadap anak didik di daerah.

Salah seorang pakar pendidikan di Indonesia, Dr Anita Lie dalam presentasi mengenai Rentra Biro Pendidikan LPMAK yang berlangsung di Sheraton Hotel Timika belum lama ini mengakui ada ketidakberesan dalam konsep pendidikan nasional. Anita bahkan merujuk pada materi Ujian Nasional yang cenderung membebani masyarakat pendidikan di daerah-daerah.

Tak saja Anita Lie, Gubernur Provinsi Papua, Barnabas Suebu pun menilai konsep pendidikan nasional saat ini tak lagi relevan untuk diterapkan di daerah termasuk di Papua. Barnabas Suebu malah menyentil konsep pendidikan nasional ibarat pakaian jadi (pakaian konveksi). “Pakaian tersebut diukur dan dijahit di Jakarta kemudian dikirim ke daerah. Masyarakat di Papua yang butuh pakaian langsung mengenakan saja tanpa melihat ukuran. Orang di Jakarta pun tidak tahu tentang postur orang Papua, mereka hanya asal jahit berdasarkan seleranya,” begitu kata Barnabas mengibaratkan konsep pendidikan nasional saat ini.

Jadi, Barnabas mengingatkan konsep pendidikan di Papua harus mengalami perubahan sesuai kebutuhan dan kondisi di daerah masing-masing, termasuk di Provinsi Papua. Konkritnya, menurut Barnabas, di Papua mestinya dibangun sekolah-sekolah berpola asrama. Jadi reformasi pendidikan adalah mutlak perlu dilakukan terus menerus sesuai perubahan pemahaman kehidupan itu sendiri.

Sebagai orang awam yang bisanya sekadar mengamati, ingin mencoba menelusuri perjalanan sejarah panjang dari pendidikan itu sendiri, baik secara formal atau non formal. Pendidikan yang dinamis telah menghantarkan masyarakat dari tahap agraris menuju tahap industrialis.

Gambaran sejarah pendidikan di Indonesia saat ini bisa dialami bersama. Dari gambaran diatas ternyata masalah pendidikan bukan sekadar tergantung pada teori dan ilmu pendidikan itu saja, tapi juga iklim social budaya dan politik ikut berperan. Namun bukan alasan untuk tidak memperbaharui kehidupan melalui pembaharuan konsep pendidikan itu sendiri.

Iklan
Entri ini ditulis dalam Tak Berkategori oleh kan. Buat penanda ke permalink.

4 thoughts on “Konsep Pendidikan Nasional Ibarat Pakaian Konveksi

  1. pendidikan di Indonesia saat ini memang sangat memprihatinkan. saya kuliah di prodi s1 pendidikan akuntansi univ negeri malang. karena saya memiliki juruisan pendidikan akt saya merasa sangat tergugah untuk melakukan sesuatu bwt bangsa Indonesia yang masih sangat miskin ilmu. saya sering melihat di daerah desa tetangga saya yang masih sangat terpencil seperti pucanglaban tulungagung> mereka sering menganggap sekolah bukanlah hal yang penting,,,apalagi bagi wanita yang notabene akan menjadi ibu rumah tangga. bahkan tidak sedikit diantara mereka yang hanya lulus SD dah ckup bwt mereka,,cz mereka menganggap sekolah bwt apa kalo akhrnya hanya menjadi petani juga..padahal jika mereka sadar,,,mereka akan tahu,,jika mereka melanjutkan sekolah mereka, mereka bisa mengembangkan pertanian mereka agar bisa menambah pendapatan. tp mereka sepertinya tidak peduliakan khal itu,,,,
    disini bisa kita lihat,,betapa masi kurangnya kesadaran warga indonesia,,untuk memandang..betapa pentingnya pendidikan..
    thanx. hetik. blz


    @Terimakasih atas kunjungannya. memang begitulah keadaannya, masyarakat masih belum menyadari pentingnya pendidikan. tapi di tempat saya akses untuk sekolah yang masih susah sehingga banyak anak-anak usia sekolah yang tidak menerima pendidikan. salam

    Suka

  2. Aswrb.
    Persis……saya setuju dengan komentar anda. Malah lebih tepatnya seperti tambal sulam kain dalam konveksi pendidikan Nasional kita. Selalu lari dari kenyataan yg ada dan menutupi keburukan yg lalu.



    @
    Wswb,
    begitulah adanya….

    Suka

  3. Mohon maaf sebelumnya jikalau pesan ini mengganggu.Saya pengen berbagi informasi nih buat kita semua, mudah2an bermanfaat. Barangkali ada dari rekan2 yg sedang butuh dana/income tambahan diluar gaji blnan.Program ini dijalnkan secara online(maya),tapi uang yg dihsilkn betul2 riil.Ada transaksi,ada produk,logis,masuk akal,en tidak ada satu pihak pun yg dirugikan dlm program ini.Program ini dijlankan secara LEGAL&HALAL (KET hrap bca di websitenya, di menu “Legal & Halal”) Websitenya http://www.bisnis5milyar.net/?id=fazi

    Suka

  4. terima kasih atas blog’nya dan pencerahan atas pendidikan di Indonesia, khususnya provinsi Papua. data yang ada di blog ini bisa menjadi acuan untuk data saya. kebetulan skripsi yang saya lakukan sekarang mengambil tentang pendidikan di provinsi papua.. kalau ada data mengenai mutu pendidikan di provinsi papua, mungkin saya bisa lihat… terima kasih

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s