Program RESPEK Bukan Sinterklas

Tarian tradisonal Suku KamoroMEMBANGUN Papua yang damai dan sejahtera dapat dilakukan dengan dua pendekatan yaitu pembangunan yang berpusatkan pada manusia (people centered develoment) dan pembangunan yang bertumpu pada pertumbuhan (growth centered development). Pembangunan yang berpusatkan manusia identik dengan pelaksanaan Rencana Strategis Pembangunan Kampung (RESPEK) yang dicanangkan Gubernur Provinsi Papua–dan pelaksanaannya dimulai dengan melibatkan seluruh kampung di Papua pada Tahun Anggaran 2007 ini.

Berkait hal tersebut, untuk pertama kali dalam sejarah Papua, mulai Tahun Anggaran 2007 ini, semua kampung secara serentak, tanpa kecuali, menerima dana tunai langsung (block grant) rata-rata sebesar Rp 100 juta.

Gubernur Provinsi Papua, Barnabas Suebu,SH ketika melakukan kunjungan Turun Kampung (Turkam) ke Kaokanao, Distrik Mimika Barat, Kabupaten Mimika baru-baru ini mengatakan, program RESPEK akan menjangkau seluruh kampung yang berjumlah 3.642 kampung, seluruh kelurahan yang berjumlah 184 kelurahan dan seluruh distrik yang berjumlah 343 distrik, baik di Provinsi Papua maupun Provinsi Papua Barat. Total dana tunai langsung yang dikucurkan kepada masyarakat ini berjumlah Rp 411 miliar.

”Saya perlu tegaskan bahwa program RESPEK ini bukanlah program Sinterklas di mana pemerintah membagi-bagi uang karena rakyat telah berkelakuan baik selama ini.
Bukan sama sekali. Program RESPEK adalah program pembangunan yang holistik dan karenanya dapat pula disebut dengan village based community development (pembangunan masyarakat berbasis kampung). Melalui pendampingan yang intensif, rakyat kita di kampung-kampung itu secara bersama-sama merencanakan, menggunakan, mengawasi dan mempertanggungjawabkan penggunaan dana itu untuk program-program perbaikan makanan dan gizi, kesehatan, pendidikan, perumahan, perekonomian rakyat, dan infrastruktur di kampung mereka masing masing,” jelas Barnabas Suebu kepada masyarakat di Kaokanao.

Selain dana block grant tadi, masih ada lagi program pembangunan kampung yang dilaksanakan dalam bentuk program sektoral yang bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Provinsi, APBD Kabupaten dan Kota serta para donor yang berasal dari lembaga-lembaga internasional dan dari negara-negara sahabat. Program-program sektoral ini mencakup seluruh kebutuhan mendasar masyarakat, yang mencakup pangan dan gizi, kesehatan, pendidikan, perekonomian, perumahan, air bersih, jalan dan jembatan kampung, dan sebagainya.

Dengan demikian, jelas gubernur pada pertemuan itu, total dana yang diabdikan untuk seluruh kampung di Papua akan mencapai lebih Rp 2 triliun pada tahun anggaran 2007 ini. Selain dengan melaksanakan RESPEK, agenda mencapai Papua yang damai dan sejahtera diwujudkan juga dengan melaksanakan pendekatan growth centered development atau pembangunan yang bertumpu pada pertumbuhan.

Intinya, Tahun Anggaran 2007 akan diwarnai secara signifikan dengan upaya menciptakan iklim yang kondusif untuk menarik investasi dari sektor swasta dalam skala besar. Investasi swasta dalam skala besar ini, khususnya dalam bidang pertanian dalam arti luas perkebunan, tanaman pangan, kehutanan, peternakan dan perikanan, secara otomatis akan menciptakan pusat-pusat pertumbuhan baru (growth centers), baik di wilayah-wilayah tertentu di bagian Utara, Selatan, maupun di Pegunungan Tengah Papua.

Di dalam pusat-pusat pertumbuhan baru ini tidak saja tersedia lapangan kerja baru bagi ribuan penduduk dan keluarganya yang hingga kini masih dibelenggu rantai kemiskinan, tetapi juga melalui kerjasama dengan pemerintah, akan dibangun fasilitas pelayanan masyarakat seperti pendidikan dan kesehatan. Rakyat yang kini masih miskin, namun yang adalah para pekerja keras dan rajin itu, akan berpindah secara alami ke perkebunan-perkebunan besar yang modern, yang pada gilirannya berubah menjadi agropolitanagropolitan.

Di sanalah, di pusat-pusat pertumbuhan itu, rakyat akan mengalami transformasi sosial, budaya dan ekonomi.
”Ini bukan sekadar mimpi di siang bolong. Kita sudah menghitung dengan cermat. Dua juta hektar kelapa sawit yang 50 persennya dialokasikan untuk petani plasma akan memberikan kesempatan kerja kepada 250.000 KK penduduk Papua. Dengan alokasi empat hektar kebun kelapa sawit per Kepala Keluarga, rata-rata tiap keluarga akan menerima lima hingga tujuh juta rupiah per bulan – suatu penghasilan yang jauh di atas gaji seorang pegawai negeri sipil yang bekerja di kantor pemerintah,” demikian Barnabas Suebu. (thobias maturbongs)

Iklan

2 thoughts on “Program RESPEK Bukan Sinterklas

  1. mengenai program respek ini, sebelumnya saya sempat membaca di situs undp dan beberapa situs lainnya. salah satu di kemukakan tentang people-centred development programmes merupakan salah satu program undp di papua dan papua barat. dari hasil inilah kemudian dicanangkan program RESPEK sebagai kerjasama antara pemda dan UNDP.
    apakah benar UNDP berperan juga dalam pencapaian MDGs di papua? lalu sejauh mana program respek ini berpengaruh dalam kerjasama pemda dan UNDP?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s