Program Comdev Upaya Mendukung Kesejahteraan

BERBICARA mengenai pengelolaan industri di suatu kawasan maka tak bisa dilepaskan dari pengakuan dan penghargaan terhadap hak-hak masyarakat setempat agar kegiatan industrialisasi yang tengah berlangsung tidak melahirkan marginalisasi penduduk setempat.

Karena itu, salah satu tanggung jawab moral yang dipenuhi oleh perusahaan yang menanamkan modalnya adalah komitmen untuk melaksanakan program community development (Comdev). Hal itu telah dibuktikan PT Freeport Indonesia (PTFI) di Kabupaten Mimika, Provinsi Papua.


Sektor-sektor yang menjadi prioritas perusahaan dalam Comdev, biasanya adalah sektor ekonomi Usaha Kecil Menengah (UKM), pendidikan dan kesehatan. Tentang pilihan fokus kegiatan mana yang dikembangkan perusahaan, sudah tentu tergantung pada kesepakatan atau pembicaraan tiga pihak, yakni Manajemen Perusahaan, Pemerintah Daerah (Pemda) dan masyarakat setempat.

Program Comdev merupakan salah satu upaya penyerasian perkembangan bersama antara perusahaan dan masyarakat sekitar perusahaan. Program ini bermanfaat untuk mengurangi dampak negatif yang terwujud dalam bentuk kesenjangan antara kemajuan gerak perusahaan dan keadaan serta harapan masyarakat sekitarnya.

Untuk itu diperlukan perencanaan dan penetapan program Comdev yang sesuai dan diterima semua pihak. Yang penting, dengan cara membangun kesepakatan sejak awal antara perusahaan dan masyarakat, diharapkan tidak akan ada keluhan dari masyarakat bahwa program pengembangan masyarakat yang dijalankan terkesan mubazir. Pemda juga senang karena dibantu dalam hal peningkatan ekonomi, kesehatan dan pendidikan.
Dengan demikian, berarti bahwa program Comdev semakin penting artinya untuk keberlangsungan suatu industri maupun masyarakat di sekitar industri tersebut.

Mendukung kesejahteraan

Pada dasarnya, program Comdev adalah upaya untuk mendukung kesejahteraan dan kemandirian masyarakat secara berkelanjutan. Program-program Comdev harus dimaknai sebagai salah satu upaya mengatasi kesenjangan struktural yang timbul antara masyarakat dengan perusahaan.

Karena itu, agar program yang dilakukan di lapangan tidak terjerumus menjadi program yang sifatnya karikatif semata, maka harus memperhatikan sasaran yang ingin dicapai. Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK) sebagai salah satu LSM yang ikut menjalankan Program Comdev PT Freeport Indonesia (PTFI), secara nyata telah berupaya dalam melakukan berbagai program Comdev terhadap masyarakat tujuh suku (Kamoro, Amungme, Mee, Moni, Dani, Nduga dan Damal) di Kabupaten Mimika. Namun demikian, dalam perjalanannya setelah dilakukan evaluasi menyeluruh, ada sejumlah program yang tak relevan lagi untuk dipertahankan sesuai karakteristik masyarakat setempat. Ada kegagalan, itupun harus diakui tapi juga keberhasilan yang dicapai mestinya dijadikan tolak ukur sebuah perjuangan.

Menurut Sekretaris Eksekutif LPMAK, John Nakiaya, dalam menjalankan program ekonomi kerakyatan, Biro Ekonomi Tujuh Suku perlu melihat dan mempertimbangkan karakteristik dan latar belakang masyarakat tujuh suku terutama Suku Kamoro dan Amungme. John menyebutkan, sebagian besar dari masyarakat Amungme adalah petani dan peternak maka keberpihakan program terhadap masyarakat Amungme dapat diwujudkan dalam bentuk program-program yang mengarah pada bidang pertanian atau peternakan.

Karena itu sektor pertanian harus menjadi prioritas dalam program nantinya, selain pendidikan, kesehatan dan ekonomi UKM. Pertanian tidak boleh ditinggalkan karena bertani merupakan mata pencaharian utama yang ditekuni oleh sebagian besar masyarakat gunung.

Bisa dipahami bahwa tidak mudah bagi masyarakat gunung untuk melakukan transformasi dari masyarakat pertanian menjadi masyarakat industri maupun dari petani menjadi pedagang atau membuka usaha kecil-kecilan sebagai mata pencaharian baru yang belum pernah ditekuni, mengingat masyarakat lokal telah hidup selama beratus-ratus tahun sebagai petani dan bertani bagi masyarakat sudah menjadi identitas kultural.
Hal serupa juga terjadi pada masyarakat Suku Kamoro di wilayah pesisir pantai. Mereka secara kultural sudah menjadi masyarakat nelayan yang tak bisa lepas dari laut dan sungai.

Sebagian besar masyarakat Suku Kamoro melakukan kegiatan usaha yang diwarisi dari generasi di masa lalu secara turun-temurun, dan dalam banyak hal mereka bingung, ketika harus beradaptasi dengan situasi perubahan baru yang jauh berbeda dari kehidupan sebelumnya.

Belajar dari kegagalan
Terlepas dari adanya prokontra seputar program pengembangan masyarakat melalui LPMAK yang didanai melalui Dana Kemitraan PT Freeport Indonesia (PTFI), namun keberhasilan yang telah dicapai oleh LPMAK patut dijadikan contoh bagi pihak lain.
Program dalam bidang pengembangan ekonomi kerakyatan yang telah dilakukan LPMAK, adalah pengembangan wirausaha pertanian bagi masyarakat. Program itu terbukti efektif bagi masyarakat. Strategi ini bertujuan untuk membuat masyarakat menjadi usahawan tani yang mandiri. Masyarakat didorong untuk memiliki tanggungjawab dan diberikan kesadaran bahwa suatu saat mereka harus bekerja mandiri penuh tanpa dukungan dari PTFI melalui LPMAK.

Untuk mengkondisikan hal ini, Biro Ekonomi LPMAK melakukan komunikasi dengan masyarakat dalam berbagai kesempatan untuk menjelaskan bahwa suatu waktu mereka harus mandiri tanpa dukungan langsung dari perusahaan.

LPMAK juga memberikan pelatihan keluar daerah bagi beberapa kelompok binaan untuk mengerti seluruh proses usaha termasuk sisi pemasaran dan pengelolaan keuangannya.
“Kunci untuk menghadapi masyarakat adalah mengarahkannya untuk memiliki pengertian bahwa keberhasilan dalam berusaha membutuhkan kemauan sungguh-sungguh dan kerjasama kelompok,” kata Kepala Biro Ekonomi Suku Kamoro, Saturninus Wayaru mengomentari perkembangan program ekonomi LPMAK.

Satu hal lagi yang tak kalah penting menurut Satur adalah keberlanjutan program. Agar program Comdev dapat berkelanjutan maka program-program yang digulirkan harus dapat meningkatkan peran lembaga-lembaga mitra, termasuk tokoh adat dan tokoh masyarakat lokal. Selebihnya adalah upaya monitoring dan pelaksanaan program di lapangan.

“Ini sangat penting karena melalui dukungan merekalah, masyarakat akan merasa bahwa program yang dijalankan LPMAK tidak main-main,” ujar Saturninus. (LAndAS)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s