Berbagi Peran dalam Kehidupan Suku Amungme

DALAM kehidupan masyarakat Suku Amungme, pembagian peran dalam perekonomian rumah tangga dapat dikatakan tidak berimbang. Perempuan biasanya mendapat porsi tanggung jawab terbesar.

Seorang ibu di Kampung Amungun, Distrik Akimuga mengatakan bahwa tugas laki-laki dalam pekerjaan berkebun adalah membuka lahan untuk berkebun. Menebang pohon dan membabat semak-semak sehingga terbentuk sebidang tanah yang siap ditanami oleh bibit sayuran adalah tugas kaum pria.

Sangat beralasan karena kegiatan ini membutuhkan kondisi fisik yang kuat yang menurut mereka hanya dapat dilakukan oleh laki-laki. Sedangkan tugas perempuan dalam berkebun mulai dari menanam bibit sayuran, melakukan perawatan tanaman seperti memberikan pupuk alami yang terbuat dari humus, kemudian memetik hasil kebun yang siap panen, yang semuanya dilakukan tanpa bantuan suami mereka tapi hanya dibantu oleh anak perempuan.

Ketika hasil kebun mengalami siap panen, para istri yang bertugas memasarkan. Satu-satunya daerah yang menjadi tujuan pemasaran hasil kebun adalah Kota Timika. Jarak antara Timika dengan Akimuga apabila ditempuh dengan pewasat terbang jenis cessna atau twin otter sekitra 20 menit tapi melalui perjalanan sungai bisa memakan waktu dua sampai tiga hari. Alasan utama penjualan hasil kebun ke Timika lantaran faktor keuntungan dari hasil penjualan lebih besar ketimbang menjual di Akimuga yang tidak jelas pasarnya. Mereka akan rugi jika menjual hasil kebun di kampungnya sendiri.
Pekerjaan perekonomian rumah tangga lainnya yang tidak kalah penting adalah memelihara babi.

Babi adalah hewan ternak utama, banyak upacara-upacara adat yang mengharuskan penggunaan babi dalam prosesi upacara adat. Sama halnya dengan pembagian peran dalam pekerjaan berkebun, dalam memelihara babi, tugas laki-laki adalah membuat kadang babi, sedangkan dalam perawatan seperti memberi makan dilakukan oleh perempuan. Karena babi tidak hanya bernilai ekonomis, tetapi juga mempunyai nilai budaya, jual beli hewan babi dilakukan oleh laki-laki, karena peranan laki-laki yang dominan dalam adat.

Besarnya peranan dan tanggung jawab yang ditanggung perempuan dalam rumah tangga tidak diimbangi dengan besarnya peranan mereka dalam pengambilan keputusan. Untuk berbicara dalam sebuah kelompokpun mereka seperti diawasi. Ketika dalam pertemuan-pertemuan yang membahas program-program pemberdayaan masyarakat, keikutsertaan mereka hanya sebagai pendengar. Kalaupun boleh berbicara hanya setelah pembicaraan kaum laki-laki sudah selesai.

Hubungan Antar Suku
Suku Amungme memiliki kedekatan dengan Suku Kamoro. Sejak dulu, dua suku ini hidup ‘berdampingan’ seperti bersaudara. Tanah yang dihuni Suku Amungme di Akimuga merupakan hak ulayat Suku Kamoro sub Suku Sempan yang dulunya dibeli Gereja Katolik untuk pemukiman Suku Amungme yang diturunkan dari daerah pegunungan. Sebagian Suku Amungme yang menetap di Timika juga berada diatas tanah ulayat Suku Kamoro. Hubungan kekerabatan antar dua suku itu menjadikan mereka tidak saling menyerang. Berbeda dengan pandangan mereka terhadap suku-suku lainnya yang dilihat sebagai pendatang di Mimika. Kehadiran suku-suku lain ini seringkali menimbulkan masalah bagi orang Amungme terkait erat dengan tanah untuk lahan pertanian dan permukiman.

Kebutuhan Masyarakat
Kehidupan orang Amungme di Akimuga dapat dikatakan terpusat pada dua hal yaitu berkebun dan ternak babi. Teknik berkebun mereka masih sederhana tidak berbeda jauh dengan yang dilakukan para pendahulu atau nenek moyang mereka yaitu tebang – tebas – tanam, lalu ditinggalkan tanpa perawatan yang memadai. Kebun hanya ditengok sesekali saja untuk dilihat apakah sudah ada tanaman yang layak panen.

Masyarakat sangat menginginkan adanya tambahan pengetahuan baru dalam berkebun untukmeninkatkan hasil panen mereka. Menurut keterangan penduduk sampai saat ini belum ada petugas pertanian yang datang ke wilayah mereka untuk memberikan penyuluhan mengenai teknik berkebun/bertani secara baik. Masyarakat belum mengenal intensifikasi lahan dengan baik. Untuk menjamin tersedianya pangan yang dilakukan oleh penduduk adalah ekstensifikasi lahan dengan cara membuat kebun sebanyak-banyaknya.
Kebutuhan kedua yang tidak kalah penting adalah kepemilikan babi, karena setiap kehidupan penduduk tidak lepas dari babi. Babi harus ada dalam setiap upacara adat maupun upacara keagamaan. Babi sudah umum dipelihara oleh masyarakat, tetapi pengelolaan ternak babi ini masih sangat sederhana dan dalam jumlah kecil. Bila ada upacara sering kali masyarakat harus membeli ke kampung –kampung lain. Oleh karena itu penduduk sangat membutuhkan bibit babi yang baik dan tambahan pengetahuan dalam pemeliharaan babi.

Dua hal inilah yang diusulkan oleh masyarakat kepada Ketua Badan Pengurus dan Ketua Badan Musyawarah Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK) ketika berkunjung ke Akimuga beberapa waktu lalu. Selain dua hal diatas masyarakat juga menginginkan adanya sarana pendidikan dan kesehatan yang memadai agar anak-anak bisa bersekolah dan mendapatkan pelayanan kesehatan dengan baik. Kedua sarana tersebut bagi kampung-kampung tertentu masih terlalu jauh ditambah dengan petugas sering tidak berada ditempat. (thobias maturbongs)

Lainnya Lihat diSINI 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s