Malam Pertama di Kaokanao, Hotel Bintang Lima Itu ACnya Dingiin

Jumat (7/3) lalu, saya dan beberapa orang teman pergi ke Kaokanao. Tujuan kami kesana untuk melihat pabrik es balok dan pabrik pembuat kapal dari fiber bantuan dari USAID. Diperjalanan sejauh mata memandang hanya tampak hijaunya hutan bakau, rimbunnya pandan hutan dan coklatnya air sungai serta derasnya ombak di lautan.

Hari sudah mulai sore yang menuju Kaokanao. Setelah melewati sungai, kapal yang kami tumpangi menuju lautan karena air di sungai sudah mulai surut. Kami terombang ambing oleh ombak lautan yang malam hari itu agak deras. Selain menikmati guncangan ombak, kami pun dapat melihat indahnya sunset.

Surutnya air di muara yang menuju Kaokanao, membuat kapal yang kami tumpangi tak dapat melanjutkan perjalanan. Kami pun berhenti di Kampus Biru sambil menunggu air mulai pasang. Di Kampus Biru, kami membuat api unggun, memancing dan untuk mengisi perut yang mulai kosong kami membuat sagu bola-bola.

 Tak ada rasa yang istimewa dari sagu bola-bola tersebut, hanya rasa pahit yang akibat dari gosongnya kulit luar sagu. Cara membuat sagu bola pun unik (bagi saya), sagu dikepal-kepal hingga bundar kemudian dibasahi sedikit dan dibakar diatas bara api sampai rata. Setelah semuanya terbakar, arang sedikit dikikis kemudian dibelah dan belahan kulit itu yang dapat dimakan sementara bagian dalam dibakar lagi. Hal itu dilakukan terus menerus hingga semua sagu habis dan tak dapat dikupas lagi. Ini pertamakalinya saya ke Kaokanao dan makan sagu bola-bola 😀

Pukul 11 malam air sudah mulai pasang, kami pun meninggalkan Kampus Biru menuju Kaokanoa. Hampir pukul 1 malam kami tiba di pelabuhan Atapo Kaokanao, rombongan terbagi dua, lima orang termasuk saya turun di pelabuhan sementara yang lainnya turun di sungai belakang.

Seorang teman yang bersama saya adalah asli dari Kaokanao, Ia pun mengajak kami untuk menginap di rumah saudara ayahnya. Namun malam itu kami tak beruntung, ternyata pemilik rumah sudah ke Timika sejak kemarin sementara kunci rumah tidak dititipkan ke tetangganya.

Malam semakin larut, kami pun memutuskan kembali ke Pelabuhan Atapo dan malam itu kami lewati dengan tidur beralaskan terpal yang dipinjamkan oleh seorang nelayan yang berbaik hati melihat kami tidur di geladak  pelabuhan. Sebelum tidur kami menyempatkan diri nonton film Rambo IV yang diputar melalu DVD Portabel milik seorang teman. Adegan film semakin seru, tiba-tiba batre habis dan DVD itu pun mati.

Yah malam yang dingin kami lewati dengan tidur di tepi muara diatas geladak pelabuhan. Pukul 5.00 pagi Alarm HP saya berbunyi, tandanya saya harus bangun pagi untuk jongging, tapi pagi itu udara dingin menusuk tulang, saya tak dapat tidur meskipun masih mengantuk dan lelah.

Rasa dingin tak dialami saya saja akan tetapi teman-teman pun merasakannya hingga kami pun bangun dan berjalan-jalan disekitar pelabuhan untuk mengusir dinginnya pagi. kami bercanda dan mengatakan malam pertama di Kaokanao menginap di hotel berbintang lima dan AC nya tak dapat di atur kedinginannya.

Satu lagi pengalaman hidup telah saya torehkan. Pertama kalinya ke Kaokanao, juga pertama kalinya makan sagu bola-bola dan pertama kalinya tidur di geladak pelabuhan. benar-benar menyedihkan 😀

Lanjutannya cerita di Kaokanao dilanjutkan besok atau kalo ada waktu posting 😀
Foto-foto bisa dilihat disini

Iklan

One thought on “Malam Pertama di Kaokanao, Hotel Bintang Lima Itu ACnya Dingiin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s