Takut Nasi

Anak lelaki kecil itu duduk bersila di lantai. Dihadapannya ada semangku mie rebus. Tangannya yang kecil meraih sebuah sendok, lalu mengambil mie dari dalam mangkuk dan ia memindahkan dua sendok mie ke piring kecil agar lebih cepat dingin. Setelah dingin ia menyantap mie tersebut. Cara itu sering dilakukannya jika hendak menyantap mie, baik yang rebus maupun mie goreng.

Sejak ia dilahirkan ke dunia, ia menjadikan mie sebagai makanan yang paling digemari. Saat ini usianya enam tahun dan selama itu ia tak pernah memakan nasi walaupun hanya satu butir saja. Mengonsumsi mie instant sudah menjadi kebiasaan. Ketika ia masih kecil, semua jenis makanan bayi hanya sampai di mulutnya saja. Selebihnya dimuntahkan.

Jangankan untuk makan nasi, mencium aroma uap nasi panas saja ia langsung muntah. Seperti orang mabuk laut atau mabuk karena minuman keras. Suatu hari ketika Ibu dan Kakak sedang asyik menonton tivi, tiba-tiba anak kecil itu menangis sejadi-jadinya padahal tak ada yang menganggunya. Ia sendirian didapur. Mendengar tangisan yang sangat keras, Ibu dan Kakak serentak menuju dapur, mereka mengira anak kecil itu kena pisau.

Sesampainya di dapur, anak kecil itu mengangkat kakinya dan berkata, “Ada nasiiiii……” sambil menjerit-jerit dan menangis sekencang-kencangnya. Ibu lalu mengambil sebutir nasi yang terselip diantara jempol kaki dan telunjuk kakinya. Seketika itu Ia langsung diam dan melanjutkan kegiatannya.

Jika kami makan, maka kami yang harus mengalah karena ia akan berteriak-teriak dan lebih parah lagi, ia akan memuntahkan semua isi perutnya saat itu juga. Tapi berbeda ceritanya jika kami bersama-sama menyantap sate. Ia tak mencium bau nasi dan seakan tak peduli dengan nasi disampingnya. Ia melahap sate dengan nikmatnya.

Ada cerita lagi, suatu hari ada seorang penjual sate lewat di depan rumah kami. Anak kecil itu menangis dan meminta Ibu untuk membelikan sate. Ibu mau membelikan sate asal makan dengan nasi. Anak kecil itu menyanggupinya. Dihadapannya sate dan nasi tersedia, lalu ia mengambil satu tusuk sate kemudian satu sendok nasi. Ajaib, ia tidak muntah. Ia mengunyah-nguyah dan lebih ajaib lagi daging sate bisa di telan tapi nasi tertinggal dalam mulutnya lalu dikeluarkan dan dibuang.

Enam tahun sudah ia tak pernah makan nasi, untuk makanan sehari-hari, ia mengonsumsi mie instan, pentolan, susu ultra dan makanan ringan lainnya. Bujukan maupun rayuan agar ia makan nasi semuanya sia-sia bahkan saya berjanji akan membelikan sepeda jika bisa makan nasi tapi tetap saja tak berhasil, ia memilih tak memiliki sepeda daripada makan nasi.

Adakah cara agar adik kecil saya bisa makan nasi seperti saya??

Iklan

4 thoughts on “Takut Nasi

  1. @ yati

    Ibu nga ngidam saat hamil, malah hamil aja baru ketahuaan saat udah 8 bulan. dah biasa kali sejak bayi makan mie.

    @sapi

    Dia nga mau. Pisang goreng aja hanya diambil tepungnya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s