Tautan

Alm. Gita Suhargianto

Alm. Gita Suhargianto

Lelaki tinggi kurus itu tampak ringkih. Yah seorang kawan kenal pertama kali di Balikpapan ketika bekerja bersama di Tribun Kaltim, sebuah koran milik KKG di Kalimantan Timur. Tahun 2003 pertama bertemu. Bekerja di bagian yang sama, tingal di mess yang sama dan memiliki emosi yang hampir sama. yah sama-sama mudah marah kalo redaktur terlambat kirim berita atau sudah dekat deadline tapi berita tak kunjung datang. GITA SUHARGIANTO itulah namanya. Kini tinggal kenangan, 22 November 2014 lalu ia sakit dan sore harinya menghembuskan napas terakhir. Saya tidak dapat mengikuti pemakamannya, Saya hanya dapat mengunjungi keluarganya 3 hari setelah almarhum dimakamkan. Banyak kenangan yang kami lalui, saya pun teringat ketika kami pulang kerja malam hari selalu bersama keliling kota Balikpapan sekadar membeli makan atau hanya jalan-jalan untuk mengisi waktu, maklum kerja malam baru bisa tidur kalo sudah jam 5 pagi. 🙂

acara bakar ayama dan ikan saat gajian

Acara bakar ayam dan ikan saat gajian ditambah air kedamaian 🙂

Tak lama memang Ia bekerja di Balikpapan, kalau tidak salah ingat hanya 1 tahun ia bekerja. waktu yang tak lama dengan banyak kenangan. Teringat kembali ketika kami bersama-sama menggunakan motor pergi ke Tenggarong yang jaraknya ditempuh kurang lebih 3-4 jam. Pukul 7 malam kami berangkat, sampai di Samarinda pukul 9 malam. Ibarat orang buta menuntun orang buta dengan modal nekad tentunya kami ke Samarinda lalu dilanjutkan ke Tenggarong. Sampai di Biro Tenggarong hampir 10.30 malam. Ada lagi kenangan yang lucu dan berkesan, ketika kami beli sayur dan tempe. Maksudnya untuk membuat tempe mendoan. Menurutnya tepung pakai air panas dahulu lalu tempe dan digoreng dan menurut saya tepung campur air dingin saja. Kami pun berdebat, pada akhirnya saya pun mengalah dan kami pun terbahak bahak ketika melihat hasilnya. Tepungnya jadi masak, hahaha…… Banyak kisah tentunya tidak akan habis kalau ditulis, yang pasti bagi saya, Alm Gita adalah seorang sahabat yang sangat setia. Ia selalu membantu ketika saya ke Jakarta dalam rangka mengikuti pameran. Kebutuhan selama pameran Ia yang membantu mempersiapkan. Tak hanya itu, Ketika Chelsea lahir, kami menggunakan motor pergi ke pasar Jati Negara untuk membeli, box bayi, kereta bayi dan bantal-bantal. Motor Mio nya tampak penuh, didepan berdiri box bayi lalu saya memangku kereta bayi dan bantal-bantal. tidak mudah mengendarai motor yang penuh dengan belanjaan dengan volume besar di jalanan ibu kota. Bukan kali itu saja, saat saya melakukan perjalanan dinas di Jakarta, Ia selalu menemani, pergi belanja atau hanya sekadar mengunjungi. Kesetiaannya pun tak pernah pudar, ketika saya dan istri mengatarkan Chelsea berobat di RS Cikini, Ia bersama Tasya, putrinya mengantarkan kami ke bandara saat kami hendak kembali ke Timika. Ada lagi ketika istri saya akan menonton Artis idolanya sejak kecil (NKOTB) menggelar konser di Ancol, Alm Gita dan Keluarga beserta mertuanya yang menjaga Matthew anak kami yang berusia  4 bulan. Yah singkat kata, Ia adalah Sahabat setia seperti keluarga. Teringat pula saat Ia hendak kembali ke Jakarta setelah berhenti kerja di Balikpapan, Ia berkata “Man sampai mati, gw nga bakalan lupa sama elo”. Kata-kata itu dibuktikan dengan segala bantuan saat saya maupun istri saya pergi ke Jakarta maupun berbelanaj lalu dikirim ke Timika. Selamat Jalan Sahabat, maaf kan segala kesalahan yang pernah sy perbuat dan maaf pula baru bisa memposting tulisan ini. Semoga Amal Ibadahmu diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Amin.

Iklan