Jadi Perempuan Itu RIBET!!!

Jumat lalu saya, beberapa teman beserta 2 orang dari TVRI Papua dan dua orang dari Persipura ke Kaokanao. Tujuan kami utuk melakukan diskusi sekaligus survey untuk membuat Sekolah Sepak Bola. Dalam rombongan itu, ada dua orang perempuan. Berangkat pukul 5 sore dari perairan Cenderawasih sampai di Kaokanao pukul 9 malam. Tidak seperti beberapa bulan yang lalu saat ke Kaokanao saya tidur di geladak pelabuhan Atapo tapi kali ini persiapan cukup baik sehingga kami dapat beristirahat di asrama milik pastoran Kaokanao.

Malam kami beristirahat, tapi sayang saya dan beberapa orang teman tidak dapat menikmati tidur. Selain nyamuk yang ganas, suara ngorok seorang teman membuat kami tak dapat tidur. Malam hingga pagi hari gerimis. Saat kami datang ke Kakokanao, jalan maupun lokasi seluruh Kaokanao sangat becek karena sedang musim air pasang sehingga air naik merendam seluruh Kaokanao.

Sabtu siang kami mengadakan pertemuan dengan Camat setempat dan tokoh masyarakat Kaokanao. Setelah pertemuan kami berkemas dan akan kembali ke Timika. Pukul tujuh malam kami meninggalkan Kaokanao. Keperian kami diiringi tangisan dari beberapa orang yang mengantar kami sampai Pelabuhan Atapo.

Kami mengarungi sungai di kegelapan malam. ditengah perjalanan salah seorang Ibu dituntut panggilan alam (halah pengen pipis). Kamipun mencari daratan yang bisa tempat berlabuh boat dan juga bisa kami singgahi untuk mengantar si Ibu pipis.

Ah ternyata ribet jadi perempuan itu. Pipis aja musti nyari tempat yang nyaman, berbeda dengan laki-laki kalo ingin pipis tak perlu mencari daratan. Berdiri saja dibelakan dan bisa pipis dengan risiko aliran pipisnya berlengak-lengok mengikuti hembusan angin ūüėÄ . Ini pengalaman pribadi daripada menahan pipis dan ginjal jebol lebih baik hambur aja dibelakang boat ūüôā .

Iklan

Keramahan orang Kaokanao hingga Menu Burung Mata Merah yang Lezat

Setelah menghabiskan malam di sepanjang perjalanan dan meninkmati dinginnya AC hotel bintang lima itu, kami menitipkan barang-barang ke salah seorang warga Kaokanao. Setelah itu, kami menelusuri kampung-kampung di Kaokanao. Seorang teman yang lahir di tempat itu menjelaskan seluk beluk kampung dan sedikit mengingat masa kecilnya.

Seperti kebanyakan kampung-kampung tradisonal, perumahan di Kaokanao rata-rata masih sederhana dan tradisional hanya ada beberapa yang terbuat dari kayu yang terlihat lebih baik, rumah itu milik pedagang. Semua rumah di Kaokanao dibuat panggung kecuali pasar,  gereja dan masjid. Meskipun Kaokanao adalah kota tua di Kabupaten Mimika jangan berharap ada kendaraanyang lalu lalang. Ketika kami menelusuri perkampungan, hanya terlihat sebuah motor itu pun milik seorang pedagang.

Baca lebih lanjut